family · jalan jalan · review

Glamping di Tanakita Rakata Adventure Campsite

Kemping di tepi hutan sambil bawa bocah dan bayi itu ribet ya?

Gimana cara masang tendanya?

Duuhh.. kalau tengah malam kebelet pipis gimana?

Atauuu… gimana kalau nanti ada serangga, ular atau ketemu binatang buas?

Dulu sih jaman masih sekolah, saat tergabung dengan ekskul pramuka dan pmr, saya excited banget saat membangun tenda dengan teman setim, tapi kalau sudah emak emak begini kok ya males repot yang ada di pikiran.

Stoopp semua keparnoan di atas!

Karena kita bisa menikmati kemping di alam terbuka nyaris tanpa ribet.

Glamping atau glamour camping bisa menjadi satu pilihan kalau kita ingin menikmati menginap di  tenda di alam terbuka dengan fasilitas mendekati hotel.

Glamping ini menjadi pilihan kami saat menghabiskan long weekend di awal bulan Mei ini.

Keluarga Prahasto bersama dengan keluarga kakak sudah memesan 2 buah tenda sejak 3 minggu sebelumnya.

Kami berangkat dari Cibubur sekitar jam 07.30 dan tiba di Tanakita sekitar jam 14.30 setelah sempat beristirahat sekitar 1 jam untuk makan siang dan sholat Jumat.

Perjalanan yang ditempuh memang cukup aduhai, mengingat kemacetan di gerbang Ciawi dan beberapa ruas jalan dari Ciawi menuju Sukabumi, baik yang disebabkan oleh adanya perbaikan jalan di daerah Caringin maupun adanya pasar tradisional di daerah Cicurug dan Cisaat.

Namun kelelahan menempuh perjalanan yang potensial bikin pantat berkonde ini langsung terbayar setelah kami cek in dan mendapatkan pemandangan seperti ini :


Cakep kaaann…

Begitu sampai langsung dapat pemandangan tenda tenda berwarna hijau muda di tepi hutan.

Tanakita Rakata Adventure Campsite ini terletak di kaki Gunung Gede Pangrango.

Tepatnya beberapa ratus meter masuk dari pintu gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Karena kami 2 keluarga, terdiri dari 4 orang dewasa, 1 anak dan 1 bayi maka kami memesan 2 tenda.

Di dalam masing masing tenda terdapat 3 matras yang bersih, tidak berbau apek dan lumayan empuk.

Si kakak dan adik langsung gulung gulung di matras melepas lelah setelah sekian jam menempuh perjalanan dari rumah ke Sukabumi. 

Oh iya karena dari rumah saya sudah membawa makanan si adik (bubur) tidak lupa saat cek in saya menitipkan kotak bekal makanan adik di kulkas yang bisa diambil dan dihangatkan sewaktu waktu si adik lapar.


Tidak berapa lama kami dihampiri oleh salah seorang crew Tanakita, kabg Asep, yang menawarkan untuk menemani treking.

Ada dua pilihan treking, ke danau Situ Gunung dengan jarak sekitar 700 meter atau ke air terjun dengan jarak sekitar 2 km.

Karena mempertimbangkan belum tentu si kakak kuat diajak jalan 2 km, akhirnya kami memutuskan untuk treking ke Situ Gunung.

Berangkat dengan semangat karena melewati jalur setapak berbatu yang dikelilingi pepohonan rimbun di kanan dan kiri.

Sampai di Situ Gunung sudah banyak pengunjung yang menikmati sore di sana.


Saya dan si kakak sempat naik perahu mengelilingi danau dengan biaya 10 ribu rupiah per orang.

Kembali ke campsite si kakak sudah mulai lemes dan akhirnya minta gendong bapak hahaha😆

Sesampainya di campsite kami bisa menikmati teh atau kopi hangat dan gorengan tahu, pisang, ubi di area tempat makan.


Istirahat sejenak di dalam tenda kemudian dilanjutkan dengan mandi.

Kamar mandi dan toilet cukup bersih. Shower dengan air hangat ada di masing masing bilik kamar mandi. Letak kamar mandi dan toilet ini juga dekat dengan area tenda.

Saat menjelang malam mulai bermunculan serangga seperti ngengat, kumbang, lebah, belalang dan laba laba.

Namun tidak perlu kuatir kalau ingin menghindar supaya serangga tidak masuk ke dalam tenda cukup menutup satu lapisan kelambu saja, dan kita masih bisa melihat ke luar tenda.

Si kakak yang bersekolah di sekolah alam senang sekali karena melihat serangga yang juga hampir setiap hari bisa ditemui di sekolah🙂.

Sesudah mandi, sekitar jam 7 malam, kami berkumpul untuk makan malam di area tempat makan.

Menu prasmanan yang disediakan cukup lengkap yaitu nasi, mie goreng, ikan bakar, daging bumbu bistik, kerupuk, sambal dan buah.

Selesai makan malam kami bisa mengikuti kegiatan treking malam melihat kunang kunang dengan rute yang tidak terlalu jauh dari campsite.

Sambil membawa senter, pelan pelan kami berjalan bersama menembus gelapnya malam.

Sampai di satu lokasi, guide yang memandu perjalanan kami meminta agar senter dimatikan.

Saat itulah kami bisa melihat kilasan cahaya di kegelapan. Bahkan ada yang tampak melesat dari ranting pohon ke ranting yang lain.

Guide juga menunjukkan kepada kami batang pohon yang ditumbuhi jamur bercahaya. 

Cahaya jamur yang berwarna putih itu juga hanya tampak bila senter dimatikan.

Bahkan si kakak juga mendapat kesempatan untuk memegang kunang kunang yang berhasil ditangkap oleh salah satu crew Tanakita.

  

Tentu saja hanya untuk mengamati bagaimana sebenarnya bentuk kunang kunang, setelah tahu maka kunang kunang itu dilepaskan kembali. 

Karena terkena cahaya senter, tidak terlihat cahaya di bagian belakang tubuh kunang kunang.

Setelah melihat kunang kunang kami kembali lagi ke campsite untuk menikmati jagung bakar plus bajigur dan performance dari crew Tanakita.

 

Beberapa crew memainkan alat musik dan menyanyi di depan api unggun. 

  

Dengan lagu lagu kekinian maupun lagu lagu di tahun 90an dan 2000 awal yang membangkitkan nostalgia masa muda *cieeee… yang udah berumur…. cieeeeee😆

Mendekati jam 22.30 kami masuk ke tenda dan beristirahat. 

Kalau ingin mencharge handphone di masing masing tenda juga disediakan stop kontak yang terletak di dekat pintu tenda.

Pagi harinya saya bangun dengan perasaan gembira karena menghirup udara segar dan melihat pemandangan seperti ini :

  
  
  

Sarapan pagi sudah tersedia dengan menu nasi goreng, omelet atau telur mata sapi dan ayam goreng.

 Ada juga bubur kacang hijau.

  

Untuk anak anak bisa juga membuat pancake bersama kakak crew Tanakita.

  
  

Selesai sarapan aktivitas lain sudah menanti. 

Saya mendaftar untuk river tubing di sungai yang berjarak sekitar 700 meter dari campsite dengan rute sepanjang 1,5 km.

Delapan puluh persen dari aliran sungai tersebut terdiri dari jeram. 

Tubing ini artinya kita akan duduk di atas ban besar dan mengikuti aliran sungai, tentu saja dengan memakai alat pengaman diri seperti life vest, helm dan pelindung siku. 

  

Arus sungainya cukup deras sehingga sebaiknya bila ikut river tubing ini dalam kondisi sehat dan cukup paham bahwa resikonya bisa tergores batu yang ada di sungai. 

  

Namun jangan kuatir crew Tanakita sudah berjaga di beberapa titik dengan kondisi jeram yang sulit.

Setelah saya selesai mengikuti river tubing gantian si kakak yang mencoba flying fox.


Excited banget si kakak mengikuti kegiatan ini.

Jam 14.00 siang kami harus check out, meskipun nggak rela karena rasanya masih pengen menikmati suasana di Tanakita.

Puas sekali rasanya bisa menikmati liburan dengan kemping di alam terbuka dan minus ribet. Apalagi dengan adanya aktivitas yang beragam dan makanan yang cukup banyak🙂.

Biaya yang kami keluarkan untuk menikmati glamping ini sebagai berikut :

Biaya per orang Rp 550.000/ orang (di atas usia 3 tahun).

Biaya river tubing Rp 150.000/ orang

Naik perahu di Situ Gunung Rp 10.000/orang

Untuk reservasi dan detail lebih lengkapnya bisa dilihat di http://www.tanakitacamp.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s