jalan jalan · Jogjakarta

Taman Sari Jogjakarta

Mumpung masih gress dan belum males nulis ceritanya, jadi kali ini saya ingin menulis review tentang Taman Sari Jogjakarta.

Inget inget pengalaman sebelumnya kalau nggak cepet ditulis pasti bawaannya jadi males untuk bikin ceritanya hehehe *lirik foto2 bistrip ke dubai dan yokohama yang sampai sekarang masih adem ayem di laptop, padahal perginya udah tahun lalu*

Di awal April ini kebetulan kantor menugaskan ke Jogjakarat untuk meeting dan training.

Karena meetingnya berlangsung beberapa hari dan ada sedikit waktu kosong di sela sela kegiatan, maka saya menyempatkan diri untuk berjalan jalan ke obyek wisata yang letaknya dekat dengan hotel.

Ini sudah ke sekian kalinya saya mengunjungi Jogja, namun di tidak selalu punya kesempatan untuk jalan jalan keliling kota.
Kadang karena aktivitas pekerjaan, balik ke kamar hotel sudah nyaris tengah malam.

Kebetulan rombongan kantor menginap di Melia Purosani yang dekat lokasinya dengan pusat keramaian Malioboro dan obyek wisata sekitar Keraton.

Dari hotel ke Malioboro cukup jalan kaki kurang lebih 300 meter, jadi begitu sore kegiatan meeting selesai, sebelum makan malam, masih sempat jalan jalan ke Malioboro.

Kali ini saya sempatkan juga mampir ke Mirota karena niat mau cari printilan unik yang agak jarang ditemui di Jakarta seperti misalnya kotak tissue berbahan batik, piring saji motik batik, piring makan dari anyaman lidi daaaan gelas dari batok kelapa hehehe..

Untuk apa??

Untuk belajar food photography, kan udah mulai coba coba bikin masakan yang ciamik tuh.
Jadi kepengin bisa food photography juga kakak🙂

Kameranya SLRnya??

Belum punyaaaaa….. HAHAHAHA….

Gak apa apa deh, biarin aja, yang penting niat dulu bikin masakan yang keceh trus difoto pake tab aja, kan udah banyak sekarang aplikasi editingnya :mrgreen:

Baiklah gak usah lama lama, selain mampir ke Mirota di hari berikutnya setelah kegiatan selesai saya mengunjungi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dari hotel naik becak 15 ribu rupiah. Kata satpam hotel sih bisa dapat 10 ribu, tapi saya nggak tega sama tukang becaknya kalau nawar 10 ribu.
Sampai di Keraton beli tiket seharga 5 ribu rupiah plus seribu rupiah lagi untuk membayar fee kamera.

Muraahh yaa….

Masuk ke dalam istana kebetulan di pendopo depan sedang ada pertunjukan wayang golek oleh para abdi dalem.
Abdi dalem yang laki laki memainkan gamelan sedangkan beberapa abdi dalem perempuan melantunkan lagu lagu jawa.

Keraton Nyayogyakarta Hadiningrat

Di keraton saya tidak terlalu lama, foto foto sedikit kemudian melanjutkan perjalanan kembali karena kuatir waktunya nggak keburu karena ingin menuju tujuan berikutnya yaitu Taman Sari.

Lagipula saya sudah beberapa kali mengunjungi keraton. Dulu setiap liburan ke Jogja bareng mama papa dan adik adik, keraton ini pasti jadi tujuan utama selain Borobudur atau Prambanan dan Parangtritis hehehe…

Jadi nggak terlalu penasaran.

Kalau Taman Sari memang sudah pernah di masa kuliah, bareng beberapa teman kuliah, tapi cuma selintas lalu saja sambil jalan jalan pagi.

Namun kali ini saya memang ingin tahu lebih banyak tentang Taman Sari.

Dari Keraton saya naik becak lagi, dengan biaya 25 ribu rupiah dengan tawaran mengunjungi 4 lokasi lain seperti sentra oleh oleh dan batik. Tapi saya cuma ingin melihat proses membatik sebelum mengunjungi Taman Sari.

Bapak tukang becak lalu mengayuh becaknya menuju ke salah satu sentra batik.
Pemiliknya masih kerabat Sultan.
Di Toko Batik yang sebenarnya rumah tinggal itu saya melihat sebuah kereta (tanpa kuda) diparkir di halaman depan.
Menurut Bapak Tukang becak hanya keluarga berada atau kerabat Sultan saja yang bisa memiliki kereta.

CYMERA_20140407_072238

Di samping Toko Batik saya menyempatkan melihat proses pembuatannya batik tulis menggunakan canting dan malam.

Oh yaa, dari asal usulnya batik itu asal katanya dari “Tik” atau memberi titik.

Alatnya ya menggunakan canting dengan berbagai ukuran, dengan bahan malam panas yang dilukiskan di atas kain yang sudah digambar motif.

batik tulis

Melihat hasil satu kain katun penuh motif itu rasanya kagum banget dengan kesabaran pembuatnya.
Waktu SMP di Malang dulu, waktu pelajaran kesenian, saya pernah diajarkan cara membatik dengan canting dan malam.
Tapi ya jangan dibandingkan dengan batik yang ada disitu, lah wong saya dulu membatiknya cuma motif sederhana di atas kain katun seukuran sapu tangan hahaha…

Tahun 2010 pernah juga ikut kegiatan membatik bertempat di Museum Bank Mandiri, di atas kaos warna putih. Tapi itu juga tujuannya hanya untuk seneng seneng mengisi waktu luang saja.

Setelah melihat proses pembuatan batik, barulah saya minta diantar Bapak Tukang Becak ke Taman Sari.

Tiba di Taman Sari saya diarahkan Bapak Tukang becak ke rumah salah seorang abdi dalem yang berlokasi dekat Taman Sari.
Rupanya bapak abdi dalem ini memang sudah biasa menjadi guide.

gerbang Taman Sari

Setelah membeli tiket seharga empat ribu rupiah (muraahh yaaa..) saya mulai masuk ke Taman Sari ditemani oleh bapak guide ini.

Taman Sari ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I sekitar tahun 1700an, dibantu oleh arsitek dari Portugis. Bangunannya sendiri memadukan 3 unsur budaya yaitu Cina, Hindu dan Islam.
Temboknya terbuat dari campuran bata, pasir dan kapur putih yang fungsinya agar bisa menyerap air, sehingga di waktu siang udara di dalam bangunan terasa lebih dingin (karena jaman dulu belum ada AC).

Untuk melekatkan ornamen pada dinding bangunan digunakan putih telur (dan konon disertai kemampuan tenaga dalam ahli bangunannya) 

Melewati pintu gerbang, pandangan saya tertuju ke kanan dan kiri dimana terdapat bangunan kecil dengan pintu yang rendah.
Menurut bapak guide, bangunan ini dahulu digunakan oleh pengawal Sultan untuk berjaga jaga dalam posisi duduk bersila.
Pintu yang rendah memiliki filosofi bahwa orang harus selalu rendah hati, karena dengan pintu yang rendah pasti untuk memasuki pintu harus dengan menunduk dahulu.

Pintu masuk sebenarnya ada 2, namun karena salah satunya berdekatan dengan perumahan warga sehingga tidak difungsikan lagi.

CYMERA_20140402_163115

Di dekat bangunan pos penjagaan pengawal raja tadi berjajar pohon buah kepel. Pohon buah kepel ini cukup unik. Bila biasanya buah berada di pucuk dahan, maka buah kepel ini tumbuh dari atang utama pohon. Warnanya coklat seukuran sawo.
Biasanya digunakan oleh putri putri Sultan untuk dimakan karena berkhasiat menghilangkan bau keringat.
Namun tidak boleh dimakan oleh wanita hamil karena bisa menyebabkan keguguran.

Sebelum menuju gerbang pemandian, di bagian tengah terdapat jalan setapak.

CYMERA_20140402_162758

Menurut bapak guide, dahulu apabila Sultan datang ke Taman Sari akan disambut oleh selir selir yang menari di jalan setapak menuju gerbang pemandian.

Setelah melewati gerbang pemandian, saya melihat ada 2 buah kolam pemandian berukuran besar dengan kedalaman tidak sampai 1 meter.

Kolam yang kanan digunakan untuk mandi putri putri Sultan, sedangkan kolam yang kiri untuk mandi para selir, pada hari yang berbeda.

CYMERA_20140402_162355

Di tengah pemandian ada mata air. Dahulu mata air ini benar benar mengeluarkan air bersih, dari masa Sultan I hingga ke 8. Di masa Sultan ke 9, mata airnya mulai menyusut hingga berhenti sama sekali. Saat ini mata air tersebut digantikan oleh air mancur dari pompa.

Menurut bapak guide juga, dulunya dasar dari pemandian ini adalah pasir, baru setelah Taman Sari tidak difungsikan lagi sebagai pemandian dan beralih jadi obyek wisata, lantainya diganti dengan semen dan dicat.

Kolam untuk para selir hanya digunakan mandi apabila Sultan mengunjungi Taman Sari.
Di tempat ini Sultan akan naik ke lantai 2, kemudian melempar bunga yang akan diperebutkan oleh para selir yang sedang mandi.
Selir yang mendapatkan bunga artinya terpilih untuk menemani Sultan mandi di kolam lain yang berukuran lebih kecil, di balik bangunan yang terletak di sebelah kiri kolam mandi para selir.

Masuk ke area kolam pemandian yang lebih kecil, dimana dahulu Sultan mandi ditemani selir terpilih, saya melihat di tepi tepi kolam terdapat tempat dupa yang ditutup kurungan.
Menurut bapak guide dulunya tempat dupa itu diisi oleh aroma terapi, sehingga saat Sultan mandi bersama selirnya, akan tercium bau harum.

Selesai mandi, Sultan akan berganti baju di ruangan yang terletak antara kolam pemandian kecil dan kolam pemandian selir.

CYMERA_20140402_162915

Di hadapan ruangan ganti baju ini, Sultan akan menghabiskan malam bersama dengan selirnya.

Komplek Taman Sari ini sebenarnya tidak hanya berupa pemandian saja.

Terdapat beberapa bangunan lain seperti misalnya Gedong Madaran yang dulunya dipergunakan oleh para abdi dalem untuk memasak makanan bagi Sultan.

Gedong Madaran

Setelah masakan dimasak biasanya akan diletakkan berjajar di meja yang terdapat di dalam bangunan tersebut, untuk dites oleh abdi dalam (memastikan bahwa makanan tersebut layak dan tidak berbahaya bagi Sultan).

Tidak jauh dari Gedong Madaran kita dapat menjumpai pelataran yang dahulu digunakan sebagai tempat untuk menyajikan makanan dan tempat Sultan makan hidangan yang sudah disajikan.

CYMERA_20140402_165459

Di kawasan ini pula terdapat bangunan yang digunakan oleh para Sultan Mataram untuk bersemedi.

Bangunan ini tidak terlalu besar dengan pintu di tengah dan terdapat sekat / tirai persis di hadapan pintu masuk.

CYMERA_20140402_165052

Menurut bapak guide terdapat kepercayaan bagi orang Jawa bahwa pintu masuk itu tidak boleh terlihat langsung dari bagian belakang rumah. Untuk menghindari kemungkinan dari hal yang tidak baik maka dibuatlah sekat atau tirai di hadapan pintu masuk.

Di dalam ruangan bersemedi ini terdapat dua bagian yang digunakan untuk bersemedi. Bagian kiri digunakan oleh Sultan dan bagian kanan digunakan oleh permaisuri (ppada waktu yang berbeda).

CYMERA_20140402_165318

Saat saya melihat ke bagian untuk bersemedi bentuknya berupa persegi dengan cekungan ke bawah.
Menurut bapak guide dulunya bagian cekungan tersebut diisi air kemudian ditutup dengan bilah bambu dan duduk bersemedi di atasnya.
Hal tersebut ditujukan untuk membuat udara ruangan menjadi lebih sejuk.

Konon kabarnya Sultan bisa bersemedi di tempat ini hingga 7 hari 7 malam tanpa makan dan minum.

Sebenarnya masih ada bangunan lain di komplek cagar budaya Taman Sari ini yaitu Masjid bawah tanah, namun karena sedang dalam proses renovasi sehingga untuk sementara tidak bisa dikunjungi oleh wisatawan.

Puas sekali rasanya bisa berkeliling kompleks Taman Sari ini dan mendapatkan tambahan informasi dari bapak guide.

Selesai berkeliling, saya pun kembali ke bapak tukang becak yang kemudian mengantarkan saya kembali ke hotel .

2 thoughts on “Taman Sari Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s