rumah

Tentang rumah

Sesudah berusaha berdarah darah disertai keringet berember ember *halahhh lebaayy* akhirnya kesampaian juga kami punya properti pertama.

Kenapa sesudah punya satu anak baru punya rumah kreditan sendiri?

Well… Panjanggg ceritanya…

Setelah menyelesaikan PTT di kabupaten Wakatobi, bulan April 2008, saya menyusul ayah ke Jakarta di bulan Mei.

Awal menjalani hidup bersama sebagai suami istri, kami tinggal di paviliun 2 ruangan dengan kamar mandi dalam di daerah Tebet timur. Untuk urusan masak kami nebeng dapur punya landlord dengan patungan bayar gas elpiji (selain bayar listrik untuk tv dan ac). Kalau lagi males masak ya tinggal beli makanan sepengennya saja.

Pilihan tinggal di Tebet adalah karena lokasi yang strategis, akses transportasi mudah dan banyak tempat makan. Pasar tradisional cuma 200 meter, tukang nasi uduk, ketoprak, sate, rujak apa aja ada… bolak balik lewat di depan rumah kaya setrikaan😆 Urusan perut nggak susyah lah, secara juga dulu masih tinggal berdua jadi rada rada males juga kalau masak tiap hari.

Apalagi 2 minggu setelah menempati paviliun itu, saya diterima bekerja di satu rumah sakit swasta di daerah Rasuna Said, jadi nggak jauh jauh kan ke tempat kerja. Waktu itu ayah masih ngantor di Pulogadung dan untungnya beberapa bulan kemudian perusahaan memutuskan memindahkan head officenya ke daerah Thamrin. Cihuyyy banget kan.. saat Magrib, kami berdua sudah bisa leyeh leyeh di kamar🙂

Setelah 1,5 tahun menikah, akhirnya saya hamdun. Dan karena butuh space lagi untuk kamar ART, maka di usia kehamilan 4 bulan, kami pindah ke daerah Asem Baris, masih di Tebet juga karena pertimbangan2 kemudahan yang sudah saya tulis di atas. Menempati rumah kontrakan dengan dua kamar + 1 kamar ART, masih dengan kondisi kemudahan akses kemana mana dan tukang jualan makanan lewat pagi siang sore malam😆

Di rumah kontrakan ini juga segala kehebohan punya anak mulai dari belajar ganti popok, mblender MPASI, gonta ganti ART sampai akhirnya nemu si Lia yang Alhamdulillah sampai hari ini sudah bekerja 2 tahun lebih ikut kami, lihat si bocah belajar makan, jalan dan segala aktivitas tumbuh kembangnya.

Rumah kontrakan ini juga yang jadi saksi segala kegalauan terkait pekerjaan, baik dari sisi saya maupun ayah. Mulai dari ayah memutuskan pindah bekerja di perusahaan kepunyaan bos Yaman di daerah Rasuna Said, sampai akhirnya saat ini berlabuh di salah satu cabang perusahaan multinasional dari Ameriki yang kantornya di daerah Pejaten.

Demikian juga dengan saya yang sesudah memutuskan untuk resign dari rumah sakit, berkelana jadi freelancer di beberapa provider kesehatan (yang basenya di Jakarta maupun di luar pulau Jawa), bergalau galau ria dengan pilihan sekolah lagi atau tetap bekerja sebelum akhirnya berlabuh di salah satu perusahaan multinasional dengan lokasi kantor yang tinggal ngesot dari mall Ambassador, hingga hari ini.

Sudah berasa nyaman tinggal di daerah yang aksesnya mudah untuk menjangkau kantor. Saking keenakannya sampai maju mundur terus tiap mau cari rumah beneran.

Pertengahan 2011, setelah saya pindah kerja di kantor yang ini, mulai serius usaha pencarian rumah. Tiap wiken kosong kalau pas saya nggak tugas kantor keluar kota, pasti muter muter sama ayah untuk survey dan ngumpulin brosur rumah atau apartemen. Sempat beberapa wiken kami habiskan untuk survey di daerah Serpong dan sekitarnya. Sudah pernah juga deal rumah di salah satu perumahan nan dekat BSD sanah. Pas mau lanjut proses KPR ternyata ada beberapa kendala yang akhirnya membuat kami batal melanjutkan proses untuk rumah yang kami inginkan.

Ngubek ngubek beberapa kali di area Tangerang Selatan kok ya nggak ketemu juga feeling-nya dengan rumah yang diinginkan. Mungkin benar yang dibilang orang kalau cari rumah itu kaya cari jodoh ya. Susah susah gampang.

Kalau liat tumpukan brosur di meja gak kehitung banyaknya. Belum lagi waktu yang kami habiskan di malam hari untuk banding bandingin kekurangan dan keunggulan masing2 perumahan itu. Apartemen sudah kami coret sejak awal, karena saya kepinginnya nanti Suri bisa naik sepeda di jalanan depan rumah pada sore hari dan saya bisa menanam tabulampot di halaman belakang *pencitraan emak ideal ala Astri Nugraha hahaha*

Suatu kali saya dapat tugas kantor untuk memberikan training kepada karyawan baru di daerah Sentul. Lewatin tol Jagorawi (pagi pagi nyetir dengan mata yang masih sepet) di sebelah kiri jalan nggak sengaja liat papan reklame perumahan segede gajah yang mencantumkan harga rumah dengan embel embel “harga mulai xxx juta”. Penapsaran doongg…

Wikennya pas kosong kerjaan, langsung tarik tarik si ayah buat survey kesana. Begitu masuk ke marketing officenya yang sebelahan sama kolam renang, udah langsung dapet feelingnya. ‘Kok kayanya suka ya sama udara dan suasananya’.

Secara kontur, perumahan ini yang jalanannya agak naik turun mengingatkan kepada rumah mama papa di Malang. Tambahan lagi udaranya juga masih agak sejuk. Agakk yaa.. tapi tetep kalau siang panas juga hahaha😀

Dilihat dari harga, mulai dari DP dan cicilan per bulannya (kredit sampai Suri lulus SMP) Alhamdulillah pas di kantong. Pas itu maksudnya gak bikin kami sampai harus ngirit makan nasi ama telur ceplok tiap hari, meskipun berhemat untuk kebutuhan yang lebih perlu juga perlu dilakukan. Bagi kami pilihan yang pas sesuai dengan kemampuan saat itu adalah sebentuk rumah dua kamar, tipe 45 dengan luas tanah 125 m2.

Mulai bayar DP bulan Januari 2012, dicicil 5x dan akad kredit di bulan Mei. Dan yang namanya beli rumah dari developer itu ternyata bukan hanya senilai yang tertera di brosur tapi masih ada biaya lain lain seperti misalnya BPHTB, biaya bank, biaya notaris dll yang kalau ditotal besarnya sekitar 10 % dari harga rumah. *mulesss*

Rumah mulai dibangun bulan Juli 2012 dan dijanjikan selesai bulan Januari 2013. Namun ternyata baru diserahterimakan oleh developer di bulan Februari. Itu pun setelah saya dan ayah bolak balik meneror mengingatkan penanggung jawab pelaksana proyek dan marketing untuk mempercepat penyelesaian bangunan.

Alasan keterlambatan karena pekerja harus menyelesaikan pembangunan rumah di cluster depan (yang mana rumah saya dibangun duluan tapi selesainya lebih lambat dibandingkan rumah cluster depan yang mulainya sebelum rumah saya dibangun dan bisa selesai sebelum saya serah terima). Geregetan kan yaa.. gimana gak bolak balik saya telepon si penanggung jawab pelaksana proyek untuk menagih hak saya. Apalagi kontrakan di Asem Baris berakhir di awal Maret sementara kami berencana untuk merenovasi rumah dengan menambahkan dapur + ruang makan dan 1 kamar lagi untuk Lia. Akhirnya nambah kontrakan lagi untuk 2 bulan, Maret dan April. Untung dibolehin sama landlord rumah Asem Baris.

Selesai serah terima kunci, tanpa menunggu waktu garansi untuk perbaikan selama 100 hari, kami segera menyerahkan urusan renovasi rumah ke salah satu mandor bangunan yang direkomendasikan oleh salah satu temannya ayah. Sudah males complain lagi ke developer karena leletnya si penanggung jawab proyek. Mending dikerjakan langsung oleh mandor kami Pak Wardi dan 2 orang tukangnya dan terbukti hasilnya lebih rapi.

Rmh_before

Renovasi dikerjakan di bulan Maret dan selesai di pertengahan April.
Foto di atas adalah penampakan sebelum renovasi.

Well, mungkin karena bolak balik ngurusin rumah, belanja printilan rumah kesana kemari dan kerjaan di kantor juga lagi banyak banyaknya yang akhirnya bikin saya kecapekan dan misscariage di kehamilan minggu ketujuh huhuhu  tapi berusaha diambil hikmahnya saja, mungkin memang belum waktunya kami diberi kepercayaan merawat satau anak lagi. Mungkin kalau semuanya sudah settled, kami akan diberikan kesempatan lagi. Amin.

Eniwei, mempersiapkan rumah idaman itu seru banget. Berasa kayak main The Sims, misalnya pas lagi milih warna lantai dapur, ngepasin warna tegel mozaic sama granit kitchen set sampai bongkar dinding kamar mandi yang putih polos (nan gak rapi hasil karya tukangnya developer) dan menggantinya dengan keramik motif biru vertikal. Seneng rasanya bisa mix and match printilan rumah.

Yang bikin mules cuma pas bayarnya aja hahaha😆

IMG-20130404-00050

renov2

renov1

Dengan segala macam printilan ituh (belum lagi siapin box plastik & kardus untuk pindahan, beli air cooler, bak cuci dan rak piring di dapur, perlengkapan kamar mandi tambahan, beli aquaproof, cat tembok, kelambu dan lain lain lain lain sebagainyahh) tentunya ada beberapa pos belanja yang harus ditekan. Rasanya saat itu diskonan Depo Bangunan terlihat lebih menarik daripada sale Guess di mol.

Sumpahhh ini beneran… Pas selesai hunting kaca ukuran sebadan di Ace Hardware Alam Sutra, kok ya pas ada sale Guess di lantai bawah. Naksir satu tas yang kereen, tapi pas lagi ngelus elus sambil lirik harganya kok ya langsung mikir, “Eeee… harga segini bisa buat beli keramik kamar mandi untuk lantai, dinding dan ornamen lisnya lengkap yaaa…..” langsung taruh lagi si tas manis dan ngacir ke Depo Bangunan Serpong mengejar diskonan tegel. Perasaan campur aduk antara lega tidak tergoda, nelongso pengen punya tas baru sama seneng karena bisa dapat keramik kamar mandi warna idaman huahahahuahuhuhu….

Area jelajah untuk hunting persiapan rumah mulai dari Mitra 10 Cibubur, Ace Hardware Kota Kasablanca, Mitra 10 Depok, Carrefour MT Haryono, Mall Ambasador, Ace Hardware dan Informa Alam Sutra, Depo Bangunan Serpong, Pongs Wolter Monginsidi dan Pongs Cibubur Junction. Kurang hebring gimana coba… ngumpulin printilan rumah dari toko toko di 3 provinsi hahaha😆 #rabid wife#

Di minggu ketiga bulan April akhirnya resmilah kami menempati rumah sendiri yang masih dicicil sampai Suri lulus SMP.. ehh penting yaa dibahas dari hasil perjuangan dan keringat kami.

Untungnya selama proses pindahan dan transisi menempati rumah baru ini kami dibantu oleh Bapak dan Ibu mertua yang sengaja datang dari Malang dan menemani kami hingga lebih dari sebulan.

Dan segera saya akan posting lagi tentang keseruan apa lagi yang kami lakukan di rumah ini hihihihi

rumah cimanggis

3 thoughts on “Tentang rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s