jalan jalan · Jawa Tengah · nyam nyam · review

Karimun Jawa, The Real SeaWorld!

Lagi iseng oprek oprek foto lama di FB dan nemu postingan notes yang satu ini.

Jalan jalan ke Karimun Jawa ini sih udah lama banget, bulan Agustus 2009, sebelum hamil Suri.

Liat foto fotonya, jadi kangen sama pantai, pengen snorkling (lagi) secara terakhir kali cium cium pasir pantai dan snorkling udah sekitar 5 bulanan yang lalu (pas tugas kantor ke Mataram dan nyempetin extend buat nyebrang ke Gili Trawangan hehehe😀 )

Saya posting ulang note FB itu di sini karena pengen nostalgila serunya main air rame rame😆

And here is the story :

Long weekend pada bulan Agustus ini terjadi karena HUT Republik Indonesia yang ke 64 jatuh pada hari Senin. Memang sudah direncanakan sejak jauh hari bahwa kesempatan libur kali ini akan dijadwalkan untuk trip. Dan inilah cerita petualangan kami berenam.

Hari Jumat sore tanggal 14 Agustus 2009, aku sudah siap dengan backpack berisi pakaian dan kantong peralatan perang. Peralatan perang disini maksudnya snorkel, mask, fin dan baju renang. Mobil travel yang rencananya menjemput jam ½ 5 sore ternyata terlambat karena alasan klasik : MACET di Kelapa Gading. Memang bukan Jakarta namanya kalau ngggak macet dimana mana. Jam 5 lebih lima belas menit ternyata Pak Udin, driver travel baru menjemput. Mobil langsung meluncur ke arah Thamrin untuk menjemput Inggar di kantornya. Dan sekali lagi melewati kemacetan yang menyebalkan.

Sesampainya di kantor Inggar kami menunggu Siska, yang akhirnya datang sambil tergopoh gopoh karena alasan yang sama : macet di Grogol. Febri dan Tri yang seharusnya dijemput bersama Inggar di Thamrin ternyata mendapat tugas kantor mendadak bersama suamiku ke sebuah wilayah perkantoran di Kelapa Gading. Dan jadilah mobil jemputan kami balik arah lagi ke Kelapa Gading menjemput Febri dan Tri, menembus kemacetan kembali. Di tengah perjalanan kami sempat mengangkut Imam, teman satu kos Inggar yang berencana untuk pergi ke Jogja.

Tiba di Kelapa Gading, kemalangan belum juga berakhir. Ternyata pekerjaan Febri, Tri dan suamiku baru bisa selesai jam 9 malam. Padahal sebelumnya kami berencana keluar dari Jakarta paling lambat jam 7 malam, agar bisa sampai tepat waktu di Semarang. Yang bikin tambah senewen, Pak Udin sempat menakut nakuti dengan komentar, “ Mbak, kalau keluar dari Jakartanya lebih dari jam 9 malam, belum tentu loh bisa sampai ke pelabuhan Tanjung Mas besok pagi jam 9.”

Setelah pekerjaan hitung mengitung mereka selesai, Febri dan Tri pun langsung bergabung ke dalam mobil travel. Suamiku tidak ikut karena masih ada urusan pekerjaan. Jarum jam sudah menunjuk pada jam sembilan lebih. Dengan panik Inggar pun berkata pada Pak Udin, “ Udah pak, ngebut aja deh. Kalo perlu nggak usah pake rem ya…”. Pak Udin masih sempat meledek, “ Nggak ada yang lagi hamil kan di sini? Saya kuatir ntar pada keguguran…”. Sontan kami semua menggeleng.

Dan yang dimaksud ‘tanpa rem’ itu sepertinya memang benar benar terjadi. Malam itu kami berenam terkocok kocok di dalam mobil. Mobil benar benar dilarikan Pak Udin sekencang kencangnya. Badan Imam terjepit di belakang, tertimpa Inggar dan Tri setiap kali mobil melewati tikungan. Beberapa kali kepalaku berbenturan dengan kepala Febri ( yang anehnya tidak dia rasakan, mungkin karena pengaruh 2 biji antimo atau mungkin juga karena kepalanya lebih keras daripada kepalaku…entahlah… :lol: 

Siska memejamkan mata sepanjang perjalanan (entah karena ngeri atau karena dasyatnya efek antimo). Bahkan di daerah Losari, kabupaten Cirebon, saat terjadi kemacetan, mobil yang kami tumpangi masih bisa meliuk liuk di sela sela trailer dan truk.

Setelah semalaman merasakan sensasi ‘mobil gila’, sampai juga kami di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang tepat waktu (dan tentu saja) dengan selamat.

Di pelabuhan kami berpisah dengan Imam, dan mendapat satu teman seperjalanan lagi. Indra, ‘teman’ Inggar menyusul dari Surabaya.

Dan tepat jam sembilan pagi, kami berenam naik ke atas kapal cepat Kartini. Gelombang laut agak tinggi hari itu dan kapal terasa lumayan bergoyang sehingga memaksa beberapa penumpang untuk menguras isi perutnya. Ada yang diam tanpa suara saat mensedekahkan sebagian isi perutnya untuk para penghuni laut, ada juga yang sepanjang perjalanan membuat suara2 yang cukup ‘heboh’ sambil memeluk trash bin😦

Jam setengah 1 siang, akhirnya sampailah kami di tempat tujuan. Gerbang putih bertuliskan ‘Selamat datang di Karimun Jawa’ menyambut kami di siang yang terik itu.

Pak Ipong, penyelenggara paket perjalanan ini, sudah menjemput kami di dermaga yang kemudian menuntun kami untuk makan siang di hotel Dewandaru. Hotel ini terletak sekitar 100 meter dari dermaga, memiliki pendopo cukup luas untuk menampung makan siang sekitar 50an orang.

Selesai makan kami berenam diantar untuk beristirahat di hotel Escape, tidak jauh dari tempat kami makan siang.

Sebenarnya kami seharusnya menginap di homestay Duta Karimun milik pak Ipong, namun karena saat itu long weekend dan tamu sedang banyak, maka kami dialihkan ke hotel Escape (satu hal yang pada akhirnya membuat kami bersyukur). Tiba di hotel kami berbenah dan istirahat sejenak. Bangunan hotel ini dua lantai dan hanya memiliki 12 kamar. Desain bangunan ini cukup simpel, didominasi warna coklat kemerahan dari batubata yang dibiarkan menyembul di dinding. Kami berenam menempati 3 kamar ukuran standar di lantai atas.Kamar kami masing masing terdiri dari sebuah springbed queen size, AC dan kamar mandi dalam.

Yang istimewa adalah pemandangan di depan kamar kami. Dari balkon di lantai dua ini kami bisa memandang deretan pohon kelapa dan laut biru, karena bangunan ini hanya berjarak beberapa meter dari pantai. Di bawah pohon kelapa di hadapan kami tampak beberapa kursi malas dari kayu yang sengaja diletakkan untuk memudahkan tamu yang ingin berjemur atau sekadar merasakan hembusan angin sepoi sepoi. Suasananya cukup tenang, sesuai dengan namanya : Escape. Tempat yang cocok untuk kabur melepaskan diri dari keramaian kota.

Jam 3 sore kami dijemput untuk menikmati keindahan pantai Nirwana. Pantai ini memiliki pasir putih yang lembut, dinaungi oleh deretan pohon kelapa.

Pantai tampak ramai oleh pengunjung pada sore itu. Bahkan ada segerombolan orang yang ternyata berasal dari sebuah bank swasta di Jawa Tengah yang sedang mengadakan acara outing. Tampak juga beberapa turis mancanegara. Golongan yang terakhir ini tampak tenang, berjemur atau sekedar duduk membaca buku sambil menikmati angin pantai. Kontras sekali dengan kami para turis lokal yang sibuk berhaha hihi kesana kemari dan narsis dengan aneka macam gaya menggunakan kamera digital.

Sesudah puas bernarsis ria bersama, aku memutuskan untuk turun snorkling. Ternyata bukan hanya pantainya saja yang cantik, isi lautnya pun juga. Hanya berjarak 100 meter dari bibir pantai, aku sudah bertemu dengan barisan terumbu karang dan ikan aneka warna. Ikan kerapu seukuran lengan terlihat bersembunyi di balik salah satu karang tajam. Beberapa jenis ikan botana juga tampak berkeliaran. Bahkan saat menyusur pasir aku sempat berpapasan dengan ikan pari. Tenang sekali rasanya, yang terdengar hanya deru suara nafasku. Sampai sampai aku tidak sadar bahwa 5 orang temanku sudah berterik memanggil dari tepi pantai, karena matahari sudah akan terbenam dan jemputan kami untuk kembali ke hotel sudah tiba.

Malamnya kami kembali ke hotel Dewandaru untuk menikmati santap malam. Beberapa jenis ikan dibakar di hadapan kami oleh para ibu2 penduduk lokal. Aku tidak tahu apa nama ikan2 itu, tapi yang jelas rasanya enak. Ikan yang rasanya manis karena fresh from the sea. Bahkan Febri baru berhenti mengunyah setelah menghabiskan tambahan 2 ekor ikan bakar. Malam itu kami pulang ke hotel dengan perut kenyang, siap menyimpan energi untuk aktivitas esoknya.

Hari kedua di Pulau Karimun Jawa diawali dengan sarapan nasi goreng di gazebo Escape yang difungsikan sebagai ruang makan, sambil memandang birunya laut. Lalu kami duduk di kursi malas di tepi pantai sambil bermain kartu.

Jam sembilan lebih kami dijemput oleh pak Ipong. Sesuai permintaan kami, hari itu acara bebas. Pak Ipong mengantar dan meninggalkan kami di sebuah pantai indah yang sepi dan tenang. Pantai Nyamplung Ragas yang terletak di antara Pantai Nirwana dan desa Legon Lele. Untuk menuju kesana hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit dengan menggunakan mobil, namun jalan yang dilewati agak berliku, naik turun dan tampak sepi karena jarang dilalui.
Serasa pantai ini hanya milik kami berenam.

Puas rasanya memandang keindahannya untuk kami nikmati bersama. Suasana sangat tenang, bahkan aku tidak kuatir ada yang mengintip saat berganti pakaian di balik salah satu batu besar karena sepinya pantai itu. Airnya jernih sehingga pasir dan ikan jelas terlihat. Walau menurutku keragaman ikan dan terumbunya tidak secantik di Pantai Nirwana, tapi cukup lah membuat kami bermain matahari dan air hingga tengah hari. Aku sempat bertemu dengan bintang laut biru dan beberapa ekor ikan ekor kuning saat snorkling. Selepas snorkling kami sempat bersenda gurau dan bermain pasir pantai. Indra jadi salah satu korbannya. Kami memaksanya berfoto ala putri duyung dengan badan penuh pasir. Jam satu siang kami dijemput oleh beberapa tukang ojek, menggantikan Pak Ipong yang tidak bisa menjemput kami siang itu.

Kembali ke Escape, saat mandi membasuh sisa air laut yang menempel di badan dan rambut, mulai terasa panasnya punggung yang terbakar. Karena lalai tidak mengoles ulang sunblock setelah bermain air, punggung dan lenganku tampak kemerahan seperti kepiting rebus, khas combutio grade I. Karena kelelahan aku tertidur sampai sore hampir habis.

Malamnya kami makan di Duta Karimun dengan menu cumi cumi dan ikan tongkol yang diolah dengan dengan cara yang unik. Selesai makan kami menyempatkan diri untuk mencari oleh oleh di kios suvenir yang terletak hanya beberapa rumah dari Duta Karimun. Tak lupa mampir ke homestay Kalimosodo, membeli rumput laut kering kepada pak Azis, yang terkenal sebagai pengepul rumput laut. Kami tahu tentang pak Azis dari seorang teman di Semarang, yang memesan rumput laut hingga 25 bungkus!

Dan malam itu masih kami lanjutkan dengan duduk bersama di kursi malas yang terletak di halaman Escape, tepat di tepi pantai. Lampion warna warni digantungkan di pepohonan dengan lampu taman mungil diletakkan di atas pasir. Baru aku tahu esoknya bahwa pencahayaan lampion dan beberapa lampu taman di halaman hotel Escape terbuat dari panel pengumpul cahaya matahari. Sambil memandang langit yang penuh bintang dan mendengar deburan ombak, aku sempat mengucap sebuah permintaan saat melihat bintang jatuh.

Hari ketiga kami dijemput jam delapan pagi, langsung menuju pelabuhan. Jadwal kami hari ini adalah berkeliling ke 4 pulau di sekitar Karimun Jawa. Bersama dengan seorang guide yang bernama pak Hasanudin, kami naik ke atas perahu nelayan dengan semangat 45. Hari itu tepat tanggal 17 Agustus.

Di perjalanan menuju pulau pertama kami melewati wisma apung dan pembudidayaan rumput laut. Pak Hasanudin banyak bercerita tentang perkembangan pariwisata di kepulauan Karimun, yang baru mulai dikembangkan di awal 90an. Ia juga bercerita tentang banyak hal lain, seperti distribusi rumput laut, lokasi snorkling dan diving yang bagus, bahkan hingga kelakuan tamu tamunya yang kadang membuatnya geleng2 kepala. Seperti saat ada seorang tamunya yang berulangkali mengeluh karena rambutnya acak acakan saat terkena angin laut ( kalau nggak mau kena angin laut, ya jangan pergi ke laut dong!!)

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Cemara Besar. Pohon cemara tampak mendominasi di pulau yang tidak terlalu besar itu. Saat perahu nelayan yang kami tumpangi mendekat, decak kagum bermunculan dari mulut kami berenam. “ Bagus banget…!!!” satu kata yang pasti terucap saat melihat pantai berpasir putih, dengan air laut yang bergradasi mulai putih kebiruan, biru muda hingga biru gelap, dinaungi cerahnya langit. Perahu kami membuang jangkar tak jauh dari pantai.

Awalnya aku ingin melompat turun untuk snorkling tanpa life jacket, namun karena gelombang agak tinggi, pak Hasanudin meminta kami semua untuk menggunakan life jacket demi keselamatan. Saat aku turun dari perahu memang terasa gelombang menghantam tubuh berkali kali. Siska yang belum bisa berenang terus berpegangan pada pak Hasanudin yang beberapa kali meminta kami untuk bergandengan tangan saat gelombang mulai datang.

Terumbu karang di sekeliling Pulau Cemara Besar ini cantik sekali, dengan ikan2 aneka jenis yang berwarna warni. Kepe kepe bulan berukuran lebih besar dari telapak tangan orang dewasa (yang 10 kali lebih besar daripada ikan kepe kepe yang aku punya di akuarium air laut di rumah) tampak bersenda gurau di antara karang karang meja. Aneka jenis botana dan ikan triger juga berenang riang di bawah badanku. Spon orange sebesar tudung saji juga tampak di beberapa sudut. Kewaspadaan harus dijaga disini karena bulu babi dengan duri durinya yang tajam berwarna hitam, tampak bertebaran di mana mana. Pak Hasanudin sempat menunjukkan satu jenis karang berwarna coklat yang juga harus dihindari. Karang api namanya. Menurut pak Hasanudin bila tersentuh kulit bisa terasa gatal seperti terbakar.

Sayangnya kami tidak terlalu lama bersnorkling karena gelombang makin tidak bersahabat. Saat berenang kembali ke perahu, ternyata nelayan yang mengantar kami sudah tak ada di tempat. Sesudah celingukan mencari, ternyata ia turun ke pantai untuk mencari kerang. Dan kami berenam menyusul berjalan ke pantai. Tentu saja bukan untuk mencari kerang, hanya ingin memuaskan hasrat bernarsis ria seperti biasa.

Perjalanan kami lanjutkan ke pulau Cemara Kecil. Di sini hamparan terumbu karang berukuran lebih besar daripada yang ada di Cemara Besar sudah menanti kami. Jenis ikan yang kami temui disini hampir sama seperti yang terdapat di Cemara Besar. Menurut pak Hasanudin, selain untuk snorkling, area ini juga sering didatangi penyuka diving. Gelombang laut lebih bersahabat disini. Sambil berenang bersama ikan, beberapa kali aku berdiam diri, membiarkan gelombang laut mengombang ambingkan tubuhku untuk sejenak. Bila lelah, cukup membalikkan tubuh saja sehingga posisi badan dan kepala menghadap ke arah langit.

Setelah puas snorkling di Cemara Kecil, kami pindah ke Pulau Menjangan Kecil. Disini komunitas ikannya lebih cantik dan lebih ramah dibandingkan di 2 pulau pertama. Saat menyodorkan biskuit di tangan, serta merta puluhan ikan datang berebutan. Sampai sampai tangan dan kakiku sempat merasakan gigitan gigi gigi kecil mereka. Demikian juga dengan Febri. Pak Hasanudin sebelumnya sudah meminta kami menyiapkan pisang dari bekal makan siang kami untuk diberikan kepada ikan ikan cantik disini. Hanya Inggar yang tidak rela berbagi pisang dengan ikan. Saking baiknya Siska bahkan sempat jackpot, mendermakan sebagian isi perutnya untuk memberi makan siang kerumunan ikan.

Saat snorkling disini, aku bertemu dengan beberapa ekor ikan kakaktua dan kerapu. Ikan keranjang juga tampak bersliweran kesana kemari. Botana kasur yang paling banyak mendominasi tampak berkeliaran dengan lincahnya. Beberapa clown fish tampak menyembul malu dari balik anemon berwarna kuning kehijauan. Duri babi masih tampak di sela sela karang yang membuat kami harus selalu waspada.

Agak lama kami bermain main di sekitar Menjangan Kecil. Keanehan kami berenam makin jelas terlihat disini. Melihat kami yang terus bercanda,saling mencela dan tertawa, ia sempat berucap, “ Baru kali ini saya ketemu tamu yang aneh kaya kalian”. Bukannya merasa malu, kami malah makin terbahak mendengar kata kata yang keluar dari mulutnya. Mungkin Pak Hasanudin akan mengingat kami sebagai kelompok yang suka tertawa dan hobi pipis sembarangan..uppsss…..(jelas sudah kami tahu apa yang menyebabkan air laut terasa asin hahaha….).

Nelayan pemilik kapal kayu yang kami tumpangi, berbaik hati untuk turun ke darat dan memanjat pohon kelapa memetik beberapa butir kelapa hijau. Sambil berenang ia membawa kelapa kelapa muda itu ke atas perahu, yang selanjutnya ia buka dengan parang dan kami nikmati bersama sama. Mantap sekali rasanya.

Perjalanan kami lanjutkan ke pulau terakhir, Menjangan Besar. Disini kami melihat 2 kolam besar yang berdinding batu karang dan berbatasan langsung dengan laut. Di kolam yang lebih kecil tampak beberapa ekor ikan hiu dan seekor ikan barakuda sepanjang satu meter lebih. Kolam yang satunya lagi berisi beberapa ekor hiu dengan ukuran lebih besar dan seekor penyu. Pak Hasanudin mengajak kami turun ke kolam itu untuk berenang bersama hiu dan penyu.

Awalnya aku sempat ragu, karena saat menyusuri pantai tanpa alas kaki, telapak kaki kiriku sempat tertusuk serpihan karang dan berdarah karena sobek. Aku kuatir bila bekas darah di kakiku membuat hiu hiu itu menjadi ganas lalu memangsa kami ( seperti yang terlihat di film Jaws atau Deep Blue Sea). Ternyata kekawatiranku tidak terbukti. Saat aku berenang di dalam kolam itu mereka tampak tenang tenang saja bersliweran di sekitarku. Bahkan aku sempat meraba perut salah satu hiu yang panjangnya satu meter. Kulitnya terasa tebal dan licin.

Kami berlima (minus Tri, yang pada sesi itu lebih memilih untuk jadi fotografer mengabadikan aksi narsis kami) turun bersama dengan pak Hasanudin mengelilingi kolam itu, menari bersama hiu dan berdansa dengan penyu. Tampak lumut agak tebal menutupi punggung penyu, karena tidak ada ikan remora disana yang tugasnya menyapu punggung si penyu. Yang tampak hanya beberapa ekor ikan capung yang berkerumun di salah satu sudut kolam, selain anemon2 berukuran besar berwarna coklat kehijauan menempel di dasar kolam.

Usai berenang dengan hiu, kami menuju penangkaran penyu. Menculik seekor tukik sejenak untuk sesi foto bersama, yang kemudian segera kami kembalikan lagi ke kolamnya. Pak Hasanudin lalu mengajak kami berjalan menuju sisi lain pulau dimana terdapat tempat penampungan telur penyu yang ditimbun dengan pasir. Di tempat yang dibatasi pagar kawat itu tampak sebuah whiteboard putih bertuliskan daftar penemuan jumlah, tanggal dan orang yang menemukan kumpulan telur penyu itu. Menurut Pak Hasanudin masyarakat umumnya sudah sadar untuk melestarikan penyu, meskipun kadang masih juga dijumpai adanya penyu yang disembelih untuk dikonsumsi saat ada acara adat tertentu. Di tempat itu terdapat juga seekor burung elang putih di dalam salah satu kandang kawat besar di tepi pantai.

Puas sekali rasanya kami hari itu. Bila jutaan orang Indonesia lainnya merayakan hari ulang tahun kemerdekaan negara ini dengan mengadakan upacara bendera, kami berenam merayakannya dengan snorkling seharian, menikmati cantiknya alam negeri ini. Tidak berlebihan rasanya bila warga Karimun membuat sebuah tagline: ‘ KARIMUN JAWA, THE REAL SEAWORLD’. Karena memang itulah adanya.

Rencananya kami berenam akan pulang pada hari keempat. Menurut informasi dari pak Ipong kapal Kartini akan dtang hari itu jam 11 siang. Aku, Inggar dan Tri sengaja bangun lebih pagi karena kami ingin berjalan jalan ke pasar, melihat geliat kehidupan Karimun di pagi hari.

Jam enam kurang kami bertiga sudah berada di pasar, yang tidak memiliki bangunan permanen melainkan mengambil badan sebuah jalan. Karenanya pasar itu hanya beraktifitas mulai selepas subuh dan berakhir sebelum jam setengah 8 pagi, karena jalan itu akan difungsikan kembali setelah pasar pagi bubar.

Penjual ikan, sayur dan kebutuhan pokok lainnya tampak berjajar menggelar dagangannya di tepi jalan. Inggar dan Tri membeli lopis dan gendar pada seorang nenek penjual jajanan tradisional. Usia nenek itu kuperkirakan sekitar 60an tahun, tapi masih tampak semangat meladeni para pembeli. Aku memilih untuk membeli jambu monyet (yang rasanya sepet dan kecut nggak jelas itu) pada seorang penjual sayur. Dengan hanya seribu lima ratus rupiah aku mendapat satu kantong berisi enam buah berbentuk unik itu.

Sepulangnya dari pasar aku menyempatkan diri untuk turun snorkling di depan hotel Escape. Karena jarum jam baru menunjuk pada angka 7 lebih sedikit, kuperkirakan dengan turun snorkling satu jam saja sudah cukup untuk mengobati rasa penasaran. Selesai snorkling jam 8 lebih seperempat, aku bergabung dengan kelima temanku yang sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan nasi goreng. Ternyata sebuah kabar yang mengejutkan sudah menanti. Kapal Kartini rusak di Jepara dan belum tahu pasti kapan akan bisa berlayar ke Karimun.

Setelah mandi, kami berenam berkumpul kembali di ruang makan Escape untuk bermain kartu dan bercanda, sekedar menghibur diri karena belum ada kepastian tentang jadwal pelayaran. Kami sempat ngobrol dengan Pak Wono, salah satu pengurus hotel Escape tentang kemungkinan sarana transportasi yang lain. Pak Wono mengusulkan untuk naik perahu nelayan pengangkut ikan yang besarnya kurang lebih sama dengan perahu yang kami naiki saat tur 4 pulau sehari sebelumnya, dengan waktu tempuh 6 hingga 7 jam ke Semarang.

Usulan ini ditolak oleh beberapa di antara kami karena jelas terlihat dari halaman Escape bahwa ombak laut dan angin agak kurang bersahabat. Kapal kayu Muria dari Jepara baru datang keesokan harinya dan berlayar kembali ke Jepara sehari sesudahnya.

Ada lagi sarana transportasi lain yaitu pesawat Cesna berukuran kecil yang hanya muat maksimal delapan orang, milik Kura Kura resort di Pulau Menyawakan. Namun karena kami belum jadi jutawan, serta merta kami mencoret opsi transportasi yang satu ini, karena tarif sewanya 1.375 dolar perjam dengan minimal carter selama 2 jam.

Yang kami sesalkan mengapa pulau yang secantik ini tidak ditunjang oleh sarana transportasi yang memadai. Setidaknya kami berharap ada kapal cepat cadangan yang bisa mengangkut penumpang bila kapal cepat Kartini mengalami kerusakan. Banyak jalan menuju Roma, namun kenapa hanya sedikit yang menuju Karimun Jawa?

Daripada semakin stres akhirnya kami putuskan untuk snorkling lagi bersama2 hingga agak siang. Sampai jam dua siang akhirnya ada keputusan bahwa kapal cepat Kartini tidak berlayar hari itu. Masing masing dari kami yang punya urusan pekerjaan segera menghubungi orang terdekat dan pihak tempat kami bekerja untuk memohon kelonggaran satu hari lagi. Satu yang menjadi kekuatiran kami adalah masalah biaya yang harus dikeluarkan karena overstay.

Terus terang aku yang tidak mengira akan harus memperpanjang liburan di tempat itu, tidak mempersiapkan diri dengan bekal uang tunai yang berlebih. Demikian juga kelima temanku.

Dan tidak ada ATM disana!

Mungkin karena merasa kasihan melihat tampang kami yang muram, pak Wono akhirnya berbaik hati memberikan diskon kamar pada hari itu. Kami cukup membayar 2 kamar saja untuk 3 kamar yang kami tempati. Sambil berkelakar, ia berkata,” Baru kali ini saya ketemu tamu tamu yang anehnya seperti kalian.” Ucapan yang sama persis seperti dilontarkan pak Hasanudin sehari sebelumnya.

Dan hari itu meskipun tidak tahu pasti kapan akan pulang, sekali lagi pada sore harinya aku nyebur lagi ke laut. Total sehari 3 kali berendam di laut di depan Escape pada hari itu (sudah persis kaya minum obat). Cantiknya isi laut sama persis seperti di areal pantai Nirwana.

Terumbu karang yang tajam dan karang karang meja yang berukuran tidak terlalu besar tampak berjajar pada jarak sekitar seratusan meter dari tepi pantai. Ikan kakaktua, botana dan ekor kuning tampak berkeliaran lincah. Spon warna orange, biru dan hitam tampak juga di sela sela karang. Karang karang piring beraneka ukuran mulai dari selebar tatakan gelas hingga selebar piring saji terlihat jelas.

Saat menyusur dasar laut perlahan, sempat juga aku melihat beberapa ekor nudibranch sebesar jempol berwarna warni sedang merayap pelan di atas karang. Kulihat juga beberapa ekor ikan berbentuk segitiga berukuran 2 kali telapak tangan orang dewasa, berbelang putih dan coklat kehitaman yang belakangan baru aku tahu dijuluki sebagai ikan kambingan (padahal bentuknya sama sekali tidak mirip kambing).

Esok paginya di hari kelima kami di pulau itu, kami mendapat informasi bahwa Kapal Kartini sudah sembuh dan berangkat dari Jepara jam setengah enam pagi, tiba di dermaga Karimun jam 9 pagi. Bergegas kami bersiap menuju pelabuhan.

Sesampainya disana memang kapal Kartini sudah bersandar, tetapi sekali lagi kami tidak bisa pulang. Karena gelombang tinggi hari itu dan menurut penuturan petugas pelabuhan, BMG menyatakan bahwa ada awan gelap berwarna kemerahan yang melingkupi langit di atas perairan Karimun Jawa.

Kepala pelabuhan membuatkan surat pemberitahuan bagi beberapa orang di antara kami yang terpaksa harus menambah ijin tidak masuk kantor. Bahkan dari kerumunan backpacker yang rencananya akan naik kapal yang sama, salah satunya sempat berkelakar, “ Wah kayaknya disini banyak calon pengangguran nih..!!”

Disaat kami sedang kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa, sementara kantong sudah menipis, tiba tiba Pak Wono muncul di hadapan kami. Melihat tampang kami yang memelas, pak Wono sempat bercanda, “ Wah..jangan jangan kalian mau bikin KTP ya disini.”

Mungkin karena tidak tega melihat kami terkatung katung tidak jelas di pelabuhan, Pak Wono akhirnya menawarkan rumahnya untuk kami tinggali. Rumah yang bersebelahan dengan homestay Dafista itu memang kosong sejak lama, kerena Pak Wono dan keluarganya lebih memilih untuk tinggal di Escape mengelola hotel milik WNA Belanda itu. Untunglah disaat kami sedang susah ada yang berbaik hati seperti pak Wono sehingga kami yang nyaris jadi gembel ini bisa terselamatkan.

Jadilah hari kelima itu kami habiskan di rumah Pak Wono. Rumah yang cukup nyaman dengan 2 kamar tidur yang masing masing berkamar mandi dalam. Baru kami tahu kemudian bahwa homestay Dafista yang bersebelahan dengan rumah yang kami tempati ternyata milik pak Wono juga. Sorenya kami masih sempat main lagi ke Escape dan tentu saja snorkling kembali. Sambil menghabiskan senja yang indah aku menyusuri kembali lokasi yang sama seperti sehari sebelumnya. Kali ini karena kurang berhati hati, saat berenang pelan mengikuti gerak seekor Scorpion fish tanpa sengaja kakiku tertusuk duri babi.

Esok paginya di hari keenam kami di pulau Karimun, kami bangun jam 4 pagi. Pak Wono jam setengah 5 datang dan meminta kami untuk bersiap karena selepas subuh kapal Kartini akan berangkat. Untunglah jarak dermaga ke rumah Pak Wono hanya sekitar 200 meter sehingga segera kami menuju ke Kapal Kartini. Setelah mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada Pak Wono, akhirnya kami pun menaiki kapal cepat itu, bersiap kembali ke Semarang.

Ombak tidak terlalu tinggi pagi itu. Buktinya aku tidak melihat ada seorang pun yang jackpot di kapal. Atau barangkali karena semuanya terlalu mengantuk karena harus bangun pagi sehingga yang tampak adalah deretan bangku yang terisi para penumpang yang tidur terlelap. Jam 9 pagi kami tiba di pelabuhan Tanjung Mas, dijemput oleh Faisal, seorang teman yang memesan rumput laut hingga 25 bungkus itu.

Faisal segera mengantar kami ke bandara karena Febri dan Siska memilih untuk pulang ke Jakarta lewat jalur udara. Febri harus mengejar pesawat sore ke Medan karena ada tugas kantor di esok hari. Sementara aku, Inggar, Indra dan Tri memilih untuk menumpang kereta api. Faisal mengantar kami ke stasiun Tawang. Aku, Inggar dan Tri mendapat jadwal kereta api Argo Anggrek ke Jakarta jam 1 siang, sedangkan Indra ke Surabaya jam 4 sore. Kami masih sempat makan siang sepiring nasi pecel dengan teh manis di pelataran stasiun ditemani senandung lagu ‘Goyang Semarang’.

Di perjalanan pulang ke Jakarta, Inggar sempat berkomunikasi dengan Pak Wono menyampaikan pernyataan terima kasih dan usulan dari kami untuk mentrasfer biaya kami menginap di rumahnya. Pak Wono hanya membalas dengan ucapan bahwa ia ikhlas membantu kami, asalkan kami bisa selamat sampai tujuan dan tidak menangis lagi ( ternyata air mata Siska yang tidak sengaja jatuh saat matanya pedih karena asap rokok di ruang makan Escape sempat diperhatikan oleh Pak Wono). Kami merasa beruntung sekali bertemu orang baik saat kami sedang kesulitan. Benar benar satu diantara sejuta.

Sungguh pengalaman berlibur kali ini tidak akan terlupakan. Terdampar di pulau yang cantik dengan teman teman yang unik bin ajaib, menikmati indahnya alam dengan balutan keramahan penduduk lokal.

Ingin rasanya suatu hari nanti kembali ke sana lagi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s