jalan jalan · Jawa Timur · nyam nyam · office event

House of Sampoerna

Meskipun saya lahir di Surabaya, tumbuh besar di Malang dan dulu kerap kali mengunjungi Surabaya karena beberapa saudara ada yang tinggal di kota ini, namun baru kali ini saya berkesempatan mengunjungi House of Sampoerna. Ini juga dalam rangka kegiatan meeting kantor yang berlangsung selama beberapa hari di JW Marriott Surabaya. Sebelum meeting dimulai, pada hari pertama kami mendapatkan kesempatan city tour, dan salah satunya mengunjungi tempat ini.

House of Sampoerna ini terletak di daerah Tanjung Perak, Surabaya. Tepatnya di jalan Sampoerna, berdekatan dengan bangunan bekas lembaga pemasyarakatan Kalisosok.

Lokasinya yang berada di tengah perkampungan padat penduduk, membuat bangunan yang merupakan pabrik rokok pertama di Jawa Timur ini, terlihat mencolok. Dibuka setiap hari dengan biaya masuk….gratis!

House of Sampoerna ini didirikan oleh seorang berkebangsaan China, bernama Liem Seeng Tee. Bangunan ini awalnya adalah pabrik rokok dan tempat tinggal yang kemudian sebagian difungsikan sebagai museum dan juga cafe.

Dari tulisan di salah satu bagian museum, saya mengetahui tentang perjalanan hidup pendiri perusahaan rokok ini. Pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee, masih berusia 5 tahun ketika ia dibawa oleh ayahnya bersama dengan saudara perempuannya menumpang kapal barang menuju Asia Tenggara, setelah ibunya meninggal dunia. Karena keterbatasan ekonomi, saudara perempuannya diadopsi oleh keluarga Cina di Singapura. Selanjutnya ia dan ayahnya melanjutkan perjalanan hingga ke Surabaya. Enam bulan setelah berada di Surabaya ayah Seeng Tee meninggal dunia karena sakit keras. Sebelum ayahnya meninggal, ia dititipkan  kepada satu keluarga di daerah Bojonegoro. Ayah angkat Seeng Tee inilah yang kemudian mengajarkannya berdagang dalam masa penjajahan Belanda.

Cukup menarik menyaksikan cerita riwayat hidup dan beberapa barang peninggalan pendiri pabrik rokok ini, yang memulai usaha sejak tahun 1913. *bukan berarti lalu saya mendukung kegiatan merokok yaaa🙂 *. Yang membuat saya terkesan adalah perjuangan hidup yang ulet sampai bisa mencapai kesuksesan seperti saat ini.

Memasuki museum ini, kita akan menemukan lambang lambang maupun angka, yang apabila dijumlahkan maka nominal akhirnya adalah angka 9. Angka 9 ini dipercaya oleh etnis Tionghoa sebagai angka keberuntungan atau kesempurnaan. Seperti misalnya logo pabrik, jumlah angka di salah satu merk rokok produksi pabrik ini, bahkan hingga ke plat nomer kendaraan pengangkut tembakau dan rokok, semuanya bila dijumlah akan menghasilkan angka 9. Nama Sampoerna, yang dipilih sebagai nama Indonesia oleh Liem Seeng Tee juga berjumlah 9 huruf!

Di museum bagian depan saya melihat replika dari warung yang pertama kali dimiliki oleh Liem Seeng Tee beserta istrinya, dan sempat foto foto juga di depannya bersama Dini dan Yuri.

Di sebelahnya kemudian saya melihat juga tumpukan tembakau dan cengkeh yang merupakan komoditas utama yang diperjualbelikan dengan menggunakan sepeda, sebelum akhirnya Liem Seeng Tee mengembangkan usaha pembuatan rokok.

Di museum bagian depan juga, di sisi sebelah kanan, terdapat beberapa barang peninggalan keluarga Sampoerna, seperti misalnya kebaya yang diberikan turun temurun, piala piala penghargaan dari lomba pacuan kuda, hingga meja kerja yang pernah digunakan oleh Pak Liem.

Memasuki museum bagian dalam kita akan melihat foto foto dan sebagian aksesoris anggota marching band Sampoerna yang dahulu sering tampil dan berlomba hingga ke luar negeri. Tampak juga sebuah mesin cetak manual yang digunakan untuk membuat kemasan rokok, juga beberapa gambar kemasan korek api.

 

Di lantai 2 bangunan museum ini, kami bisa melihat dari balik kaca, kegiatan para pekerja wanita yang melinting rokok dengan alat manual. Para pekerja ini tampak melakukan pekerjaan dengan kecepatan tangan yang luar biasa. Satu pekerja pelinting rokok dalam sehari bisa menghasilkan 200 pak rokok kretek, 1 paknya berisi 12 batang rokok! Sayangnya kami tidak boleh mengambil foto kegiatan para pekerja ini.

Selain bisa melihat para pekerja pelinting rokok, di lantai 2 ini juga dijadikan tempat untuk menjual hasil kerajinan dari mitra binaan yang berupa kaos, kain batik, gantungan kunci, tas, mug dan aneka souvenir berlogo pabrik rokok ini.

Kelar melihat lihat bagian dalam museum, kok rasanya mulut gatel pengen nyemil ya hehehe… Akhirnya saya, Yuri dan Dini memutuskan untuk melipir ke cafe sebelah untuk cari makanan ringan. Dan nggak salah memang pilihan kami. Suasana cafe ini cozy banget. Kaca kaca mozaiknya jadi bikin interior bagian dalamnya jadi unik. Dekorasi dinding mayoritas berupa foto foto iklan atau produk pabrik rokok ini. Rasanya nyaman  banget duduk duduk disini sambil ngobrol santai, jadi nggak pengen buru buru balik ke hotel🙂

Rasa makanannya juga lumayan enak. Kami memesan Rice Paper Roll (24k rupiah), Spring Rolls (20k rupiah), Ice Capucino (18k rupiah), Choco Devil (25k rupiah) dan Ice Lemon Tea (12k rupiah). Choco Devilnya enyaakk.. sampe saya jilat jilatin deh itu creamnya hihihi😆

Sayangnya karena ikut rombongan rekan rekan sekantor, jadi nggak bisa lama lama deh nongkrong di kafe ini. Kudu lanjut jalan lagi ke Mirota dan makan malam, sebelum akhirnya check in ke Marriott.

Meskipun cuma sebentar, tapi lumayan juga loh tempat ini dijadikan alternatif untuk dikunjungi apabila kebetulan ada tugas atau berlibur ke Surabaya🙂

6 thoughts on “House of Sampoerna

  1. Peneritaan masa kecilnya ternyata membuat Pak Liem tumbuh jadi pengusaha tangguh ya Mbak..Baru kali ini saya membaca cerita lengkap isi museum Sampoerna. Tks telah berbagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s