jalan jalan · Jawa Timur · nyam nyam · office event

Exciting East Java…. Trowulan & Bromo

Heeyy yaahh…. kembali ke kota kelahiran saya, Surabaya!

Minggu kedua bulan Januari ini, kegiatan kantor dimulai dengan meeting nasional di Surabaya. Kegiatan meetingnya udah pasti nggak akan saya bahas disini yah, rahasia perusahaan dong😉

Yang diceritain kegiatan jalan jalannya aja deh😀

Dari Jakarta, hari Senin,  rombongan saya dan beberapa rekan kantor tiba sekitar pukul 9 pagi di bandara Juanda. Ada beberapa rekan kerja divisi lain yang langsung meeting, tapi karena hari pertama ini saya belum ada jadwal meeting, jadi akhirnya ikut rombongan city tour. Lagipula juga kebetulan kudu jadi tim medis, jadinya kudu jaga jaga kalau ada anggota tim yang sakit di perjalanan.

Tujuan pertama ke museum Trowulan yang terletak di Mojokerto. Disini kami melihat sisa sisa peninggalan kerajaan Mojopahit, yang pernah menjadi kerajaan terbesar di Indonesia, dengan mahapatih Gajahmada yang terkenal itu.

Menarik sebenarnya mengamati peninggalan bersejarah dari kerajaan Majapahit ini, meskipun tidak terlalu lengkap koleksinya. Menurut kabar sebagian besar peninggalan Majapahit yang ditemukan sudah berpindah tangan entah itu diambil alih oleh Belanda pada masa penjajahan dulu maupun yang dimiliki atau dijarah untuk diperjual belikan oleh oknum tertentu yang tidak bertanggungjawab😦

Di museum ini, kami bisa menyaksikan beberapa arca dan sisa puing dari candi.

Salah satu yang menarik mata saya adalah Samuderamanthana, yang merupakan miniatur bangunan candi, yang penuh dengan ukiran atau relief cerita Hindu tentang pencarian air kehidupan (Amerta).

Ada juga arca yang lumayan utuh, Dwarapala. Arca yang digambarkan berwujud raksasa ini biasanya diletakkan di sisi kanan dan kiri candi sebagai penolak bala.

Tampak juga beberapa arca Ganesha (kalau kuliah di ITB pasti tau ya hehehe). Arca berkepala gajah dengan satu gading ini memiliki 2 tangan yang salah satunya memegang mangkok. Belalainya mengisap ke dalam mangkok yang melambangkan ia sebagai dewa ilmu pengetahuan yang tidak habis habisnya mencari ilmu.

Selain beberapa arca yang sempat saya foto di atas, di bagian dalam bangunan museum juga terdapat beberapa penginggalan sejarah kerajaan Majapahit, seperti misalnya mata uang kuno, beberapa peralatan dan perhiasan yang terbuat dari logam.

 

Sayangnya museum ini terlihat kurang begitu terawat, Banyak koleksinya yang diletakkan di pelataran terbuka. Gimana kalau seandainya ada oknum tidak bertanggung jawab yang kepikiran untuk menjarah koleksi bernilai sejarah itu ya? Semoga nggak ya. Seharusnya sih benda benda bernilai sejarah ini bisa diletakkan di tempat yang lebih layak. Mestinya pemerintah memberikan perhatian lebih ya untuk harta peninggalan bersejarah macam gini😦

Selepas dari museum Trowulan, kami melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, mengunjungi House of Sampoerna. Cerita tentang HOS ini saya buat terpisah ya.

Kelar dari HOS kami menuju Mirota batik, yang koleksinya mirip mirip aja kaya Mirota di Jogja. Karena lagi nggak minat belanja baju, cuma mbungkus satu syal kecil batik untuk aksesoris aja sih *teteeup.. namanya emak emak… nggak saah kalo pergi pergi nggak pake acara beli beli hehehe*

Lanjut makan malam dan akhirnya check in di JW Marriott.

Kalau untuk JW Marriott sih saya nggak akan cerita banyak. Pokoknya puas ajah nginep disini *abidin ya mak.. kalau suruh bayar sendiri mungkin mikir juga ya… dasar medit hihihi…*

Selain kasur dan bantal empuk, bath tub lega, fasilitas meeting oke, pelayanan memuaskan, pilihan menu makanan variatif, yang paling penting ting ting buat saya adalah…kolam renangnya huehehe. Iyalah.. sesudah meeting duduk seharian, berenang itu wajib hukumnya buat saya, biar makanan yang masuk nggak ngumpul jadi lemak di pinggang, paha dan pinggul, jadi harus dibakar dengan olahraga ya. Ada gymnya juga sih, cuma saya kan nggak hobi ngegym🙂

Enaknya nginep di Marriott Surabaya ini adalah lokasinya yang strategis, tinggal ngesot ke Tunjungan Plaza🙂 Jalan kaki nggak sampai 5 menit sudah bisa ketemu Sogo Tunjungan Plaza 4. Kalau males jalan, hotel ini menyediakan fasilitas shuttle car yang bisa antar jemput hotel-TP 4 setiap setengah jam sekali. Saya aja 3 hari berturut turut menyambangi TP karena janjian ketemu sama Silvia, temen kuliah yang kerja di Surabaya trus perlu beli obat di Century daaann terakhir.. nemenin Yuri belanja tas😆

Selain itu Marriott ini dikelilingi banyak makanan enak yang bisa disatroni kalau lagi bosen sama makanan hotel. Ada Rawon Setan persis di depan hotel. Dengan 25 ribu rupiah sudah bisa mendapatkan semangkok rawon sedap dengan telor asin dan teh anget.. nyam nyam deh :)  Selain itu nggak jauh dari hotel ini ada Ayam Goreng President (tahu pongnya ituh enak beneerr…kalau dimakan pas masih anget rasanya melting di lidah😛 ), dan di depannya ada bakmi ayam enaaakk juga *nulis ini sambil ngiler lagi huehehe*. Di seberang Ayam goreng President ini juga ada Ayam Goreng Pemuda yang juga terkenal maknyus.

Selain makanan di sekitar hotel ini, saya sempat ‘diracunin’ Shinta untuk beli cookies Almond Chesse  Olino’s yang ternyata emang super duper enyaakk. Harga satu kotaknya 37,5 k rupiah dan kalau pesanannya lebih dari 250k rupiah bisa free delivery. Akhirnya saya cobain pesen 3 dan Shinta pesen 4 box, tinggal telpon dan langsung dikirim ke hotel, free charge. Begitu saya cobain, ternyata nggak salah pilihan Shinta ini, memang enak. (pas dibawa pulang ke rumah, semua orang yaitu ayah, ibu mertua, mbak Nia, dik Lina dan termasuk Suri juga, pada doyan cookies almond keju itu). Catet aahh.. pokoknya kalau ke Surabaya lagi, kudu beli cookies Olino’s ini😀

Meeting kelar hari Kamis dan tepat jam ½ 11 malem kami check out dari hotel untuk lanjut jalan ke Bromo. Hiyaaahh… excited banget lah saya. Secara terakhir ke Bromo tuh pas jaman kuliah di Malang, waktu itu rame rame sama temen temen kuliah yang pengen nunjukin gunung Bromo ke mahasiswa pertukaran dari Jerman🙂

Perjalanan ke Bromo ditempuh dengan waktu kurang lebih 3 jam. Pokoknya setengah 3 pagi sudah berhenti di hotel Nadia, tempat pemberhentian bus dan ambil cemilan sama teh anget sebelum rombongan dibagi bagi untuk naik mobil jeep. Di pelataran parkir hotel Nadia ini meskipun masih pagi buta, sudah tampak beberapa warga setempat yang menjajakan penutup kepala, syal ataupun sarung tangan bagi pengunjung yang ingin menambah kehangatan hehehe.. Ya iyalah, secara duingiiinn banget ya udaranya, mana pas kami turun dari bus, anginnya berhembus agak kencang. Brrrrr… bener bener bikin kaku di ujung jari tangan dan kaki.

Harga yang ditawarkan juga cukup masuk akal. Untuk sarung tangan cukup 5 ribu rupiah saja. Syal dan penutup kepala berkisar antara 10 hingga 20 ribu rupiah. Karena nggak bawa sarung tangan, akhirnya saya beli sepasang sarung tangan.

Selesai menyeruput satu cangkir teh anget, langsung lanjut masuk ke dalam jeep yang sudah tersedia di depan hotel ini. Masing masing jeep diisi 5 orang. Kami harus pindah menggunakan jeep karena jalanan yang akan dilalui menuju ke Petigen, area untuk melihat sunrise, berliku liku nyaris off road dan hanya bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan double gardan.

Untuk melihat sunrise di kawasan Bromo ini ada beberapa tempat. Yang paling atas dan paling terkenal adalah Pananjakan. Dulu pas ke Bromo jaman kuliah, saya bisa melihat matahari terbit dengan cantiknya di Pananjakan. Namun karena saat ini, rombongan kantor yang akan melihat sunrise cukup banyak, akhirnya diputuskan untuk memilih Petigen saja sebagai tempat untuk melihat matahari terbit. Petigen ini lokasinya lebih mudah dijangkau dibandingkan Pananjakan karena ketinggiannya yang lebih rendah.

Dari hotel Nadia menuju Petigen, kami memempuh perjalanan off road, ajruk ajrukan di dalam jeep sekitar 15 menit. Jalanannya ngeri pisan euiii… karena sempit, berkelok kelok dan basah karena embun dan sisa hujan sehari sebelumnya. Di beberapa ruas jalan, saya sempat melihat ke salah satu sisi jendela, langsung ajah keliatan tebing yang curam. Tapi jago aja ya itu drivernya, bisa bawa jeep di jalan tanah berkelok kelok dengan muka santai🙂 Padahal di sebelah saya, salah satu rekan kerja yang orang Taiwan, udah pegangan kursi kenceng bener karena terkocok kocok di dalam jeep huehehe

Sampai di Petigen, kami turun dari jeep dan lanjut jalan kaki di jalanan tanah yang menanjak ke arah bukit untuk siap siap melihat sunrise. Kabut mulai turun dan suhu udara makin dingin. Saking dinginnya sampai agak pusing. Tapi tetep niat kudu bisa naik ke atas, sayang dong sudah jauh jauh sampai kesini masak cuma diem di kaki bukit aja. Lagipula kan malu ya bo kalau nggak kuat. Lah wong saya tim medisnya, bawa bawa ransel paramedik isi oksigen dan obat obatan P3K, kalau saya tepar duluan kan nggak lucu😛 Memang faktor U ya mak… Jaman kuliah sih naik gunung lempeng aja, sekarang sudah keliatan nggak segesit dulu lagi hehehe

Sampai di puncak bukit, kami menunggu hingga hampir satu jam. Kabutnya makin tebel bahkan jarak pandang juga makin pendek. Daaann… ternyata kami kurang beruntung. Sampai jam 5 lewat, kabutnya masih tebel aja, jadinya matahari terbitnya nggak kelihatan. Yaaahhh…. sayang banget.

Akhirnya rombongan kami turun kembali ke area parkir jeep dan melanjutkan perjalanan ke Segara Pasir. Seingat saya dulu mobil jeep bisa tembus Segara Pasir hingga ke kaki gunung Bromo, namun saat ini driver jeep tidak berani melewati Segara Pasir. Rupanya beberapa minggu sebelumnya, dataran Segara Pasir agak kurang stabil untuk dilewati kendaraan, karena ada sisa aliran lumpur  dari gunung Bromo, termasuk melewati area di depan Pura. Sehingga jeep yang saya tumpangi turun lumayan jauh dari area kaki gunung Bromo.

Di dekat tempat pemberhentian jeep, sudah banyak kuda kuda berikut pemandunya yang menawarkan jasa mengantar hingga ke atas gunung. Tarifnya 100 ribu rupiah pulang pergi. Tapi sekali lagi, karena pengen uji stamina, saya memutuskan untuk jalan kaki saja hingga ke puncak Bromo. Dan tanah berpasir yang menanjak itu lumayan bikin ngos ngosan ya😆 Tapi tetep nekat aja…pokoknya kudu bisa sampai atas, meskipun diikutin terus ama si tukang kuda yang sibuk nawar nawarin jasa.

Akhirnya saya dan si pak bos Arif *babeh gw di opis😛 * jalan aja pelan pelan sampai atas, ngelewatin kabut yang super tebel, di tengah gerimis yang bikin makin dingin karena jaket jadi agak basah. Tahu arah jalannya ya dari ngliatin jejak kaki kuda di hadapan kami. Sementara beberapa orang teman kami sudah sampai duluan di atas karena naik kuda.

Sampai di atas gunung, sempat foto foto narsis dengan beberapa rekan kerja yang sudah duluan naik kuda. Tetep ya meskipun menggigil kedinginan dan badan dibuntel jaket 2 lapis tapi narsis itu wajib hukumnya😆

Perjalanan belum berakhir loh sodara sodara. Sampai di atas gunung ini, kita masih harus naik anak tangga lagi yang berjumlah 250 buah untuk bisa sampai di puncak Bromo dan melihat kawah. Bersama dengan beberapa orang rekan kerja akhirnya saya naik anak tangga itu. Pelan pelan sambil pegangan pembatas di tepinya karena anak tangganya licin terkena embun dan sisa hujan sehari sebelumnya.

Akhirnya sampai juga di puncak Bromo! Puas karena ternyata masih kuat ya naik gunung kaya jaman muda dulu *uhuukk…uhukkk… lebay… berasa tua ajah😛 * Meskipun nggak bisa lihat kawahnya karena ketutup kabut. Dan foto foto narsisnya pun berlanjut, tapi ya maklum aja, karena kabutnya tebel, fotonya juga jadinya banyak yang kabur.

Memang Januari itu bukan bulan yang tepat buat naik gunung, karena biasanya hujan dan kabut juga tebal, jadi pemandangan gunung yang cantik kurang bisa terlihat. Menurut pak driver jeep, bulan yang bagus untuk naik ke Bromo itu sekitar Juli Agustus. Apalagi di bulan Agustus, setiap tanggal 15 biasanya diadakan upacara Kasodo, yaitu ritual adat untuk melempar persembahan ke kawah gunung Bromo disertai permohonan keselamatan dan kesuburan tanah yang dilakukan suku Tengger, penduduk yang mendiami area di sekitar Bromo.

Puas melihat pemandangan di puncak Bromo berikut foto narsisnya, kami menuruni 250 anak tangga itu daaannn… menemukan si ibu ibu penjual pop mie di bawah anak tangga itu🙂 Pas mau naik sih benernya udah ada, dan bujuk bujuk si Arif supaya mau nemenin makan pop mie ituh, tapi rupanya pak bos lebih tertarik naik gunung dulu daripada makan hehehe. Begitu turun gunung, rupanya dia laper juga, akhirnya bareng sama rekan kerja lainnya kompakan makan pop mie bareng. Heemm… biarin deh dibilang nggak sehat karena gak yakin air rebusan buat menyeduh pop mie itu beneran mateng apa nggak , tapi beneran deh, yang namanya dingin dingin, duduk di atas sebatang kayu di kaki gunung berkabut, sambil makan pop mie itu rasanya sedaapp banget! Kalah deh itu smoked salmon buat breakfast di Marriott😆

Selesai makan, kami harus turun lagi dong, karena kudu balik ke hotel Nadia untuk bersih bersih diri dan siap siap balik lagi ke arah Juanda. Rupanya si babeh pengen ngerasain naik kuda, jadi akhirnya turunlah kami ke tempat parkir jeep dengan kuda. Untung si Jalu, kuda yang saya naiki, jalannya pelan pelan, jadi sambil turun gunung sambil bisa melihat pemandangan di kanan kiri, pas kabut udah mulai menipis.

Masuk ke jeep, kami balik ke hotel Nadia, mandi, sarapan dan naik bus lagi untuk kembali ke Juanda. Dalam perjalanan sempat mampir ke toko oleh oleh di daerah Sidoarjo untuk beli bandeng asap daaan…. terasi hehehe. Yang namanya terasi Sidoarjo ini memang favorit saya untuk masak. Sampai hari ini, kalau mau masak makanan atau bikin sambal yang butuh terasi, masih disuplai dari kiriman mama yang beli terasi made in Sidoarjo di salah satu toko langganannya di Pasar Besar, Malang.

Sampai di Juanda udah sore aja, langsung check in dan ternyata Garudanya delay karena bad weather, maklum hujan setengah hari di Sidoarjo. Untungnya sih rame rame sama temen sekantor jadi nggak berasa bete. Sampai di Jakarta sudah malam. Badan rontok dan capek tapi seneng karena bisa ketemu Suri lagi *peluk peluk bocahnya meskipun sudah tidur pas saya sampai rumah, sambil bisikin “nak…cepet gede ya, ntar kalau sudah gede naik gunung sama bunda yuk..yukk..yuukk…’’😀 *

2 thoughts on “Exciting East Java…. Trowulan & Bromo

  1. Olino”s almond cheese chips kini hadir di Jakarta!
    Jl. Taman Rawa Pening no. 7 Bendungan Hilir, Jakarta 10210.
    08121004927 (sms/whatsapp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s