jalan jalan · office event

Phuket 4 Training (part1)

Ke Phuket buat training?

Blaaaahhh…

yang enak tuh ke Phuket buat liburan…😛 Karena judulnya abidin jadi ya sudah lah manut wae, sambil menyelam minum air hehehe…

Jadi sudah ada rencana untuk dikirim  training itu sejak 2 bulan sesudah saya join di company ini. Trainingnya terkait job role dari posisi saya, barengan ama 4 orang teman kantor. Peserta trainingnya selain dari Indo juga perwakilan dari perwakilan perusahaan di beberapa negara cluster Asia dan sekitarnya.

Awalnya direncanakan trainingnya di Bangkok *joget potong bebek angsa😀 * , ternyata karena banjir yang bikin situasi nggak memungkinkan untuk dilaksanakan disana, lokasi training dipindah ke Phuket *joget ala film bollywood* upps.. eehh… gak jadi aahh… Kasian temen temen dari Thailand tauukk… rempong karena rumahnya kelelep air😦

Hari Rabu di pertengahan bulan November lalu, berangkatlah kami berempat ( saya, Laura, Yuri dan Calvin) dari Soeta. Satu orang senior kami, dr Anna, sudah mulai meeting dari hari Senin, jadi sudah berangkat duluan ke Phuket. Flightnya pakai Singapore Airlines, transit di Changi trus lanjut pakai Silk Air ke Phuket.

Kenapa nggak pakai flight yang direct aja macem Udara Asia biar nggak pakai rempong transit plus menghemat waktu (dan tentu saja biaya)?

Karena company sangat concern dengan masalah safety. Nggak pengen kan karyawannya yang imut imut nan cakep cakep ini kenapa kenapa😀.. eh tapi kalau seandainya bukan abidin, alias dalam rangka liburan, pasti saya mau pake udara asia ajalah, lebih muraahh ya maaakkk hehehehe *emak irit*

Masuk ke Singapore Airlines jam 09.20 pagi. Pesawatnya Boeing 777 300A  dengan kapasitas penumpang 332 orang *emang penting ya* Yang pasti ruang kabinnya lega aja gitu, dengkul kaki nggak kepentok kaya kalo naik Boeing yang tipenya lebih kecil😛

Flightnya makan waktu 1 jam plus plus…eh lupa persisnya berapa lama…abis asik ngegosip ama si Calvin yang duduk di sebelah. Yang menyenangkan dari penerbangan ini adalah menu makannya yang lumayan lengkap, selain menu utama, ada tambahan buah, cake cokelat, jus jeruk, air putih dan kalau mau compliment drink bisa pesen wine juga hehehehe.  Pilihannya siang itu adalah chicken noodle dan scramble egg with sausage. Saya pilih chicken noodlenya yang ternyata rasanya agak spicy macem mie Aceh. Si Calvin pilih scramble egg, yang katanya rasanya mirip bubur bayi tapi tetep dihabisin juga *dasar maruk hahaha😀 *

 

Sampai di Changi ternyata hujan. Karena waktu transitnya cuma 1 ½ jam, jadinya ya muter muter aja di dalam airport. Keluar dari pesawat di gate E 30 dan kudu jalan ke gate F40 tempat nongkrongnya si Silk Air yang bawa kami ke Phuket. Dan jalan dari gate kedatangan sampe ke gate keberangkatan itu jauuuh ya maaakk *ketauan males olahraga hehehe* Untung terhibur dengan adanya hutan buatan, kolam ikan koi dan taman anggrek indoor. Dan foto narsis itu WAJIB hukumnya ya kalau lagi jalan jalan pergi rame rame macem gini😛

 

Dengan jarak yang cuma 1 jam lebih terbang dari Jakarta, suasananya udah bedaaaa banget ya. Koridor bandara bersih bin adem, kursi ruang tunggu yang nyaman, petunjuk arah jelas banget, brosur untuk traveling guidance free tinggal comot, manusia manusia yang bisa ngantri dengan teratur, toilet yang nggak bau pesing dan toko toko duty free yang berasa kaya manggil2 nyuruh mampir *okeh..yang terakhir ini lebay😛 *

Yang bikin amazed waktu numpang pipis di toilet, ada satu toilet khusus yang ada kursi lipat untuk bayi di dalamnya, jadi kalau ada ibu bawa anak bayi atau toddler, anaknya bisa duduk sebentar di situ sementara ibunya menunaikan panggilan alam🙂 Perasaan nggak pernah lihat yang kaya gini di Indo *ato saya yang kepo kali ya😛 *

 

Kapan ya Soekarno Hatta bisa keren juga kaya Changi gini??

Oke sesudah puas foto narsis dan window shopping –dan janji beli coklatnya ntar aja kalau mau pulang- , kami masuk ke pesawat Silk Air, Airbus A320, dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit dan baunya agak aneh. Dan kalau mau dibandingin, seragam pramugarinya lebih keren yang SQ punya ya hehehe *disambit koper ama pramugari Silk Air😛 *

Perjalanan Changi Phuket ditempuh dalam waktu 2 jam. Nggak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Phuket. Pas udah duduk pewe sambil ngantuk mo tiduran, disodorin makanan sama mbak pramugari. Menunya kari ayam dengan aroma yang bikin mual (saya nggak suka kari), apalagi bentuknya! Sayur buncis dan wortelnya kelembekan, ayamnya juga overcooked. Cuma ditowel dikit abis itu nggak napsu liatnya😦

Udah mau tiduran, eh diminta bantuan sama penumpang sebelah buat ngisi lembar isian imigrasi Thailand. Sambil nyodorin pasportnya dan tampang memelas gitu. Akhirnya saya dan Calvin bantuin si mas mas ini yang ternyata warga negara Bangladesh. Nggak bisa diajak ngobrol sama sekali, karena nggak bisa bahasa Inggris. Jadi ya kaya Tarzan aja, pake bahasa isyarat. Haduuhh… nggak kebayang ya si mas Bangladesh itu pergi keluar dari negaranya tapi nggak bisa bahasa Inggris, pasti bingung abis. Saya sih bahasa Inggrisnya juga masih belepotan, tapi kalau nanya jalan sama tempat makan ada dimana  sih masih lumayan lah hehehehe…

Akhirnya nggak tidur juga, karena masih mual kena aromanya si kari ayam tadi. Untungnya nggak lama kemudian pesawat udah mau mendarat. Pemandangan Phuket dari atas udara ternyata lumayan okeh loh😀 Ada banyak pulau kecil di sekitarnya.

Sesudah pesawat landing, lewat pos imigrasi, dan ambil bagasi, langsung lihat lihat sekeliling bandara. Sesudah melewati counter imigrasi, tampak beberapa rak yang sengaja diletakkan di depan baggage claim, berisi brosur dan peta gratis. Saya langsung ambil brosur dan peta gratis itu untuk melihat rute yang harus kami lalui dari airport menuju Novotel di Patong Beach.

 

Dari penyelenggara training sudah diinfokan sebelumnya bahwa perjalanan dari airport menuju Novotel dengan menggunakan taksi bisa memakan waktu 45 menit hingga 1 jam, dengan biaya 650 bath per taksi. Itu biaya untuk taksi yang ambil dari dalam bandara. Tapi kami mendapat ingormasi dari seorang petugas keamanan bandara, bahwa ada pool taksi di pelataran parkir bandara dengan biaya yang lebih murah. Sesudah berembuk akhirnya kami memutuskan untuk memilih taksi dari luar bangunan bandara saja.

Di area parkir airport Phuket ini akhirnya kami memesan satu taksi yang dipakai barengan *untung koper kami ukurannya masih sopan, jadi 4 koper bisa muat di dalam bagasi taksi😛, hemaattt kannn * Tempat pemesanan taksinya berupa satu kios kecil, dengan tulisan segede gaban ‘Taxi Meter’ (merk taksinya). Tarifnya 500 Bath. –nilai kurs per tanggal 7 November 1 bath = Rp 300 –

Lucunya (atau mungkin sialnya :P), kami dapat sopir taksi yang koboi abis. Tampangnya sangar dan nyetirnya ngebut gila. Semua kendaraan dilewatin, nyelip kanan, nyempil kiri. Sampai kami yang duduk di belakang ( saya, Laura dan Yuri) spontan pegangan kenceng ke pintu waktu si sopir ini mulai tancap gas. Si supir ini dengan cueknya bolak balik ngangkat hape telpon telponan. Mana sepanjang jalan, nyalain radio dengan volume kenceng daaann… lagunya semua berbahasa Thailand * ya eyaaa laahhh…. kalau di Indonesia ya pasti yang disetel musik dangdut makk🙂 )

Udah kepalang tanggung, jadi ya udahlah dibawa ketawa aja *meskipun dalam hati sibuk berdoa, semoga selamat sampai tujuan😛 * Yang ada juga kami berempat ngrasani si supir taksi ini. Untungnya dia nggak bisa bahasa Indonesia hahaha😀 Berusaha juga menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Karena untuk menuju ke daerah pantai, kami harus melewati jalanan dengan kontur yang berbukit bukit.

Akhirnya sesudah 40 menit yang mendebarkan, kami sampai juga di Patong Beach dan langsung menuju Novotel. Asik banget Novotel ini, karena lokasinya persis di depan pantai. Tinggal nyebrang jalan raya dan udah bisa main di pantai deh🙂

Penampakan hotelnya dari luar seperti ini.

 

Sesudah check in di lobi dan dapat wellcome drink grape juice, kami langsung taruh koper di kamar.

Saya sekamar berdua dengan Yuri, di kamar dengan double bed bertarif 3800 bath permalam. Begitu buka jendela kamar, bisa langsung lihat pantai *meskipun sedikit terhalang  bangunan resto seafood, travel agent dan mini market*. Yang sedikit bikin amazed, adalah mini barnya yang menyediakan beberapa macam minuman berakohol dan juga… D*rex ??

Well, so far sih fasilitas kamar oke, standar hotel bintang 4 ya . Masuk kamar mandi mau cuci muka dan gosok gigi, lah ternyata di kamar mandinya nggak disediain sikat gigi+ toothpastenya. Padahal udah stel yakin dari Jakarta gak bawa peralatan mandi😛 Untungnya persis di depan hotel ada Family Mart, minimarket yang lumayan lengkap, jadi bisa beli toothbrush (dan snack😛 )

Karena udah hampir jam 5 sore, akhirnya kami berempat plus dr Anna yang ternyata sudah selesai miting, langsung barengan niat buat cari makan. Di sepanjang jalan dekat Novotel sebenernya banyak resto, rumah makan maupun gerobak dorong yang menjual aneka macam makanan (mostly seafood). Tapi karena pengen lihat pilihan makanan yang lain, kami memutuskan untuk naik Tuk Tuk ke mall terdekat, Jungceylon Mall.

Tuk Tuk ini adalah kendaraan umum semacam mikrolet, tapi dia nggak ada rute regulernya. Jadi kalau mau sewa ke tempat tujuan kita ya harus ditawar. Untuk menuju ke Jungceylon Mall, dengan jarak tempuh nggak sampai 10 menit, tarifnya 200 bath. Rada mahal sih menurut kami, tapi mau jalan –sekitar 20 menit- males juga, secara udah laper hahaha… Karena rame rame berlima, saweran akhirnya jatuhnya nggak mahal juga hehehe..

Begitu lewat jalanan menuju ke Jungceylon Mall,jadi inget jalanan di sepanjang Kuta Bali. Sepanjang jalan di tepi pantai isinya hotel, toko suvenir, travel agent,money canger, minimarket dan cafe atau resto. Padat bin rame, berikut dengan bule bule yang bersliweran sepanjang jalan, mulai dari yang bajunya sopan sampai yang kurang bahan😀 Buat wisatawan yang capek main dipantai dan jalan2 seharian,  ada juga salon, spa dan tempat massage bertebaran di sepanjang jalan. Mulai dari paket refleksi ½ jam, fish spa dengan ikan gararufa sampai yang full body massage komplit plit plit ada juga🙂

Oh ya, kalau yang pengen nyewa motor buat keliling2 juga bisa, karena ada beberapa tempat penyewaan motor di sepanjang jalan menuju Jungceylon Mall, dengan harga sewa bervariasi mulai dari 300an bath perhari.

Sampai di Jungceylon Mall udah jam 5 sore.

Sampai sana langsung foto foto narsis dulu *tetep yaakkk* baru bergerilya cari makan. 

 Paling banyak tentu aja resto yang menyediakan masakan Thailand macam pad thai (kwetiau goreng), tom yam, Som Tam (salad pepaya Parut), Nam Tok (selada daging), aneka nasi goreng (entah apa ya namanya, males ngapalin, ejaannya susyaahh😛 ). Tapi karena tau kalau besok malemnya bakalan ada dinner bareng delegasi negara lain di resto hotel dengan menu makanan Thailand, kayaknya malem ini pengen nyobain makanan lain aja deh.

Di Jungceylon Mall ini area resto ada di bagian tengah, dengan konsep semacam Citywalk. Dan sesudah keliling cuci mata (sambil foto foto centil😛 ) akhirnya saya, Yuri dan Calvin memutuskan untuk nyobain salah satu Resto Italia.

Saya pilih Rocket Salad with Smocked Duck (180 bath), Yuri dan Calvin pesen Spagetti bolognaise ( 200 bath ) dan Ham & Mushroom Pizza (200 bath). Minumnya orange juice ajah (40 bath). Sebenernya ada beberapa pilihan wine dan aneka keju juga di resto itu, tapi lagi nggak napsu buat mengeksplor kuliner kali ini. Entah kenapa ya, padahal kalau ketemu tempat baru sih, biasanya saya suka coba coba🙂 Mungkin masih mabok juga gara gara tadi di pesawat cicip cicip kari yang bikin mual itu.

 

Laura dan Yuri sih pilih makan di resto seberang kami, dengan menu nasi goreng Thailand.

Buat yang concern dengan kehalalan makanan, harus hati hati juga disini, karena suka nggak jelas masakannya mengandung B2 apa nggak. Jadi kalau nggak yakin mending tanya ya. Apalagi ada beberapa resto yang pakai  tulisan asli Thailand di daftar menunya, so kalau nggak bisa baca tulisan keriting itu, bisa nanya ke waitersnya komposisi makananya apa aja (meskipun nggak semuanya bisa bahasa Inggris).

 Di bagian tengah dari mall ini, pada jam jam tertentu ada fountain shownya, persis di depan kapal kayu yang bertuliskan Jungceylon itu. Mirip mirip fountain show yang di Grand Indonesia gitu lah.

Selesai makan, kami jalan jalan muterin mall. Di underground mall ini ternyata banyak toko toko suvenir khas Thailand dengan harga yang bisa ditawar. Seperti misalnya kaos kaos gambar gajah (150-200 bath), kain selendang dengan motif unik (150-250 bath), aneka gantungan kunci, tas etnik dan cemilan cemilan unik macem kacang bumbu, keripik durian monthong dan laen laen. Pokoknya nyenengin deh kalau cuci mata dan shopping disini.

Akhirnya beli juga beberapa kaos dan kain selendang buat oleh oleh. Beliin juga tas motif gajah pesenannya mama😀 Terus buat Suri juga beli dress yang ada patchwork gajahnya. lucu banget seharga 250 bath.

Puas jalan jalan tau tau udah jam ½ 9 ajah. Karena badan dan kaki rasanya pegel akhirnya sama dr Anna kompakan buat nyobain traditional massage yang gerainya banyak bertebaran di dalam mall. Bisa pilih pilih mulai dari yang open space sampai yang ada private room sendiri sendiri.

Akhirnya kami berdua pilih foot  massage , dengan durasi 30 menit aja (180 bath). Lumayan sih, bikin kaki yang pegel dan kenceng kaya tales bogor, jadi rileks lagi🙂 Sementara kami berdua dimassage sama ibu ibu tukeng pijet Thailand, si Yuri, Kalvin dan Laura lanjut makan lagi di Mc D🙂

Balik ke hotel sesudah jam 10 malem dan bobo dengan pules, nyiapin stamina buat besok hari training seharian😀

…..2 be continue……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s