tips & trik

Bikin eKTP

Menjalankan kewajiban sebagai warga negara yang baik aja nih hehehe😀

Jadi ceritanya sekitar 2 minggu yang lalu, kami (saya & ayah) dapat surat panggilan dari kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru untuk membuat eKTP. Meskipun tinggal di Tebet (untuk saat ini), tapi KTP dan KK kami masi ikut nebeng sama Pak Dermawan (ortunya kakak ipar) di daerah Kebayoran Baru. Surat penggilannya untuk tanggal 24-25 November.

Karena tanggal 24 itu saya ada miting pagi dan sore di kantor, jadinya cuma ayah aja yang dateng ke kelurahan hari itu. Saya baru nyusul besoknya, hari Jumat. Udah dibilangin sama ayah kalau mau ngurus eKTP ini mending datang pagi pagi aja sekalian, biar nggak nngantri dan urusannya cepet selesai. Jadinya sehari sebelumnya minta ijin ke ibu bos (yang lagi miting seharian di luar kantor) via bbm, kalau hari Jumat bakalan datang telat karena mau ngurus eKTP dulu di kelurahan.

Jadi eKTP alias elektronik KTP ini adalah Kartu Tanda Penduduk yang dibuat secara elektronik, dimana di dalamnya dimasukkan chip yang berisi data kependudukan seseorang. Di kartu itu nantinya juga tercantum Nomor Induk Kependudukan yang spesifik untuk 1 orang saja, berlaku nasional. NIK tunggal ini berlaku seumur hidup dan bisa digunakan sebagai dasar dalam pengurusan SIM, pasport, NPWP dan urusan legal lainnya.  Sehingga dengan adanya NIK tunggal ini bisa mencegah terjadinya duplikasi identitas.

Sedikit cerita tentang pengurusan KTP ya *bukan contoh yang baik, please jangan ditiru*

Dulu jaman masih sekolah dan tinggal di Malang, saya nggak pernah ngurus KTP sendiri. Waktu SMA, umur 17 tahun dan sudah waktunya punya KTP, taunya cuma kasih foto ke papa dan papa yang jalan ke kelurahan *sambil minta tolong orang kelurahan buat ngurusin KTP itu*. Tau tau udah jadi aja KTP itu. Pas umur 22 tahun, waktunya ganti KTP juga gitu.

Dan beberapa hari sesudah Sumpah Dokter (umur saya hampir 24 tahun), saya pindah ke Cilegon karena diterima bekerja. Nebeng lah saya di rumah Om dan Tante. Ternyata untuk persyaratan bikin SIP (Surat Ijin Praktek) dan buka rekening bank (buat terima gaji ya bo😀 ), saya harus punya KTP Banten. Jadilah akhirnya grubak grubuk bikin KTP baru karena harus jadi secepatnya.

Aturan yang bener seharusnya, KTP Malang dicabut dulu, dengan surat pengantar pindah KTP, baru bisa ngurus KTP Cilegon. Tapi eh tapii karena nggak mungkin balik ke Malang lagi buat ngurusin berkas berkasnya karena kepepet waktu, akhirnya nembak aja deh. Berbekal duit 100 ribu (dan tante yang punya koneksi orang kelurahan😛 ), proses ngurus berkas dan foto nggak sampai 3 hari, jadi deh itu KTP – devil smile😛 – Jadi waktu itu saya punya 2 KTP  *clingak clinguk……takut dipentung satpol PP* Jadi selama di Cilegon, meskipun punya 2 KTP, tapi KTP yang selalu saya gunakan untuk urusan berkas berkas adalah KTP Cilegon.

Sesudah 7 bulan kerja di Cilegon, saya diterima PTT di Sulawesi Tenggara. Pas lagi PTT di sana, ditawarin warga lokal buat bikin KTP sana karena kebetulan sedang akan berlangsung PIlkada. Maksudnya supaya saya mau ikutan nyoblos disana juga hahahaha…. tapi ogah lah saya, karena memang nggak berniat untuk tinggal lama disana  –karena kudu kawin dan ikut suami ke Jakarta😀 –

Nah, untung juga sih pas bikin KTP Cilegon itu nggak pakai acara cabut KTP di Malang, karena untuk persyaratan berkas nikah di KUA Malang, harus melampirkan KTP Malang. Kalau KTPnya pakai KTP daerah lain, harus ada surat pengantar  *rempong lagi tuh ceritanya*. Jadi pas mau ngurusin berkas di KUA Malang, yang saya pakai adalah KTP Malang. KTP Cilegonnya disimpen dulu hehehe.

Bulan Mei 2008, saya pindah ke Jakarta ikut si bapak Prahasto ini🙂 Dan karena butuh KK legal, akhirnya sekalian ngurus KTP juga di sini. Karena kami masih jadi kontraktor –tinggal di rumah kontrakan- , jadinya Pak Dermawan (bapaknya kakak ipar) berbaik hati untuk ditebengin alamat rumah.

Ngurus KTP Jakarta ini, akhirnya baru kami bisa lewat jalan yang bener. Sempet ada tawaran buat nembak, tapi mahal ya bo, masak bikin KTP aja bisa habis 800 ribu lebih. Males lah saya *dasarnya emang medit, gak mau rugi hahaha*

Perjuangannya juga rada ribet, ngurus pencabutan KTP di Malang dulu. Terus di Jakartanya bolak balik ke pak RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan. Itu juga nggak langsung jadi. Sesudah berkas masuk, kami dapat secarik kertas yang menyatakan bahwa kami harus jadi penduduk sementara Jakarta selama 6 bulan sebelum bisa dapat KTP resmi DKI Jakarta. Jadi ya untuk sementara, nggak bisa buka rekening bank dulu ya maak *halaaah.. kaya ada duitnya aja, pake acara bikin rekening lagi hahaha*

Sesudah nunggu 6 bulan lebih… akhirnya jadi deh KTP Jakarta itu. KTP Malang sudah otomatis mati. KTP Cilegon masih ada sih, tapi nggak pernah dipakai lagi.

Pernah dapat cerita dari teman kalau ada temen kuliahnya yang bapaknya punya 5 rumah di daerah yang berbeda, dan jadinya kelurga itu punya 5 KTP dari daerah yang berbeda… wooowww… gile bener yaaa😛 Coba kalau kaya gitu dimanfaatkan buat hal yang nggak bener ckckckck😦

Naaahhh… jadi tau kan kalau sistemnya nggak nasional tuh ternyata ribet dan bisa jadi ada celah buat dimanfaatkan untuk hal yang (mungkin) kurang baik. Eehh.. tapi meskipun saya sempat punya KTP ganda, tapi nggak pernah dipakai buat aneh aneh ya.

OKeh… kembali ke laptop  cerita pembuatan eKTP.

Jadi saya mendukung sih kalau memang ada sistem kependudukan yang lebih baik.

Hari Jumat pagi sengaja berangkat jam ½ 7 dari Tebet. Sampai di rumah Pak Dermawan di Kebayoran Baru jam ½ 8 dan 15 menit kemudian sudah duduk clingak clinguk di Kelurahan Petogogan karena datang kepagian. Petugas Kelurahan aja, belum ada yang pada datang.

Jam 8 lebih dikit akhirnya ada petugas yang datang, dan saya diabsen. Mulai ada beberapa warga yang berdatangan untuk antri ngurus eKTP juga. Saya dapat nomer urut 1 dan masuk duluan ke ruangan kecil yang isinya meja, seperangkat komputer berikut kamera dan perlengkapan pendataan.

Berkas yang saya bawa (surat panggilan, fotokopi KTP dan KK) tinggal ditumpuk di meja. Trus petugas meminta saya untuk difoto – sayang nggak pakai make up  dan muka rada keringetan😦 – Begitu fotonya masuk, data saya diinput di komputer. Kemudian saya diminta untuk scan sidik jari tangan kanan dan kiri plus tanda tangan di atas alat scan. Selain itu juga ada proses scan mata. Dan semua itu berlangsung nggak sampai 10 menit. Simple, nggak pakai ribet.

Jadi sebelum ½ 9, proses pengurusan eKTP ini selesai. Saya tinggal menunggu surat pemberitahuan selanjutnya tentang kelanjutan prosesnya. Muga muga sih datanya bener semua dan proses selanjutnya nggak pakai berbelit ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s