jalan jalan · office event

Another story from Jogja

“ Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

….Masih seperti dulu….

Tiap sudut menyapaku bersahabat

Penuh selaksa makna…… “

 

Di kepala ini langsung terlintas lagunya KLA Project, begitu dapat info kalau bakalan jadi PIC untuk event kantor yang bekerja sama dengan salah satu asosiasi ilmiah di Jogjakarta.

Suka banget sama lagu ini dan lebih suka lagi sama Jogja hehehehe😀

Setiap kali pergi ke Jogja, selalu ada kesan menyenangkan yang bisa dibawa pulang, jadi begitu tau kalau harus nyiapin segala urusan untuk keperluan event kantor yang satu ini, rasanya semuanya dikerjakan dengan senang hati (bukan berarti kerjaan yang lain nggak seneng sih😛 ).

Berangkat hari Jumat minggu lalu, dari Jakarta dengan Garuda jam 08.50 dan tiba di Adisucipto sekitar jam 10an, bareng sama mbak Santi (lagi), si sekretaris asik di divisi saya😀

Di Adisucipto sudah dijemput sama mas driver Trac asli Semarang yang sopan dan baik banget. Dan karena pagi cuma sarapan buah naga dan otomatis perut udah bunyi krucuk krucuk, akhirnya minta ama si mas driver ini untuk dianter breaklunch makanan otentik Jogja. Apalagi kalau bukan Gudeg hehehehe…

Akhirnya kami berdua dibawa ke pusat gudeg yang kondang di Jogja, Gudeg Yu Djum. Di Karangasem mbarek, Jl Kaliurang Km 5, di belakang area kampus UGM.

Rumah makannya sederhana, rumah tua yang terletak di dalam gang. Rumah makannya rupanya sekaligus jadi satu dengan tempat tinggal.

 Yang ngladenin juga ramah ramah. (Satu hal yang bikin saya selalu suka berada di Jogja adalah keramahan warganya😀 ). Sesudah pesan dan menunggu gudeg saya diantar ke meja, saya diperbolehkan untuk masuk ke dapurnya, melihat proses pembuatan gudeg.

Wooooww… jarang jarang kan ada tempat makan yang membolehkan pengunjungnya ngintip langsung ke tempat produksi makanannya.

Dapur Yu Djum ini masih dipertahankan keasliannya. Proses memasak gudegnya masih menggunakan kuali dan dandang besar yang diletakkan di atas bara abi dari kayu bakar. Di sisi dapur, tampak juga beberapa ibu ibu berusia lanjut yang menyiapkan bahan untuk pembuatan gudeg. Hidup tampak terlihat sangat nyaman, tentram dan damai ya disini *mulai lebay😛 *

Rasa gudegnya juga wookeehh… meskipun saya nggak terlalu suka makanan yang terlalu manis, tapi kalau untuk yang satu ini, saya bisa bilang top markotob deh. Gudegnya yang manis terasa lumer di lidah dipadu dengan sambel krecek yang pedes dan potongan ayam plus telur bacem dengan bumbu yang ngresep.

Dan seporsi gudeng ini dibandrol dengan harga 16 ribu rupiah. Padanannya cukup teh anget tawar. Sambil mendengarkan lagu lagu keroncong yang dibawakan oleh penyanyi dan pemusik sepuh di beranda rumah makan ini. Sunggu sarapan pagi (setengah siang) yang menyenangkan😀

Setelah kenyang, kami lanjut ke hotel Santika untuk meletakkan koper (karena masih jam 11 pagi, belum bisa check in karena kamar full booked). Event kantor memang direncanakan digelar di lantai 2 hotel ini. Cuma mungkin saya nggak akan membahas banyak tentang pelayananan hotel ini, karena terus terang tidak terlalu puas dengan servicenya. Mungkin settingan di kepala saya, karena puas dengan service Santika yang di Malang di event sebelumnya, jadinya mensamaratakan kalau di Jogja kurang lebih juga sama.

Sesudah nitip koper, kami dijemput oleh rekan kerja lokal Jogja untuk ketemu dengan beberapa speaker di RS Sardjito. Nggak usah dijelasin detailnya ya, ntar pada ngantuk yang mau baca huehehehe…. yang pasti sampe menjelang sore di Sardjito, ditutup dengan makan siang (setengah sore) di Sego Pecel Bu Wiryo  yang lokasinya dekat juga dengan kampus UGM.

Menunya dan rumah makannya sebenarnya sederhana. Pecel dan sop daging. Tapi sekali lagi, karena suasananya yang merakyat inilah yang justru bikin makannya jadi lahap  *dasar emang maruk aja ya hihihihi*

Selesai makan, saya dan mbak Santi kembali ke hotel untuk check in dan pengennya bisa cepet mandi karena Jogja hari itu panas banget dan bikin gerah, lagipula harus pergi lagi untuk discuss dengan 2 orang speaker lagi. Tapi ya tapi…. ini resepsionisnya Santika lambreta bener. Masak ngurusin proses check in 1 keluarga yang antri di depan kami aja, bisa makan waktu lebih dari 20 menit. Si tamu yang mau check in itu sampai mengelus dada bolak balik saking si mbak resepsionis dijelasin lama loadingnya. Sampe kami berdua manyun di depan counter dan salah satu di antara kami keceplosan ngomong *sambil bisik bisik yang entah si mbak resepsionis ini denger apa nggak*

“ …ternyata cantik sama cerdas itu tidak selalu berbanding lurus yeee…”

Silet bener dehhh yaakk😛

Begitu dapat kamar, masukin koper, langsung check persiapan ruangan di lantai 2 yang akan digunakan untuk event besok hari. Sesudah selesai persiapan ruangan dan printilan kecil kecil tapi penting lainnya saya dan mbak Santi langsung mandi dan selepas magrib dijemput lagi oleh rekan kerja lokal untuk discuss lagi dengan 2 orang speaker. Sampai sekitar jam 11 malam baru kami kembali ke hotel.

Besoknya kegiatan ilmiah kami berlangsung di salah satu ruangan di lantai 2 hotel Santika ini sampai sore. Detailnya diskip aja lah ya…  :D

Selesai acara yang ribet dan rempong ini, kami berdua langsung balik ke kamar daaannn… ternyata ada tambahan personil nih sodara sodari. Ada tambahan 2 orang sekretaris asik dari divisi sebelah yang sengaja niat nyusul ke Jogja buat jalan jalan hihihihi….si Emil dan Martha. Dari Jakarta, mereka berdua naik kereta kemari, dengan tujuan buat wisata kuliner dan wisata budaya….. huaaahhh…siriikkk deh, mereka berdua udah jalan seharian sementara saya dan mbak Santi rempong kerja hehehe…

Akhirnya selepas magrib, kami berempat sepakat untuk wisata belanja dan kuliner bareng lagi. Tujuan pertama ke Mirota, di daerah Malioboro. Sudah pasti ya ke Jogja itu rasanya nggak sah kalau belum menginjakkan kaki di Malioboro.

Di Mirota niatnya pengen belanja batik sih sebenarnya, Cuma karena malam minggu dan wisatawan juga penuh banget yang pengen belanja di sana, suasana belanja jadi kurang menyenangkan. Apalagi dalam hal penataan barang Mirota sudah nggak kayak dulu lagi. Waktu saya ke Mirota tahun 2003 dan 2006, koleksi barangnya tidak terlalu banyak dan penataannya lebih menyenangkan. Bulan November 2008, waktu terakhir masuk Mirota juga masih menyenangkan. Tapi saat ini, mungkin juga karena koleksi produk makin banyak dengan penataan yang sepertinya terlalu berdempetan, kesannya di dalam toko jadi terlihat sumpek dan nggak terlalu nyaman untuk berbelanja. Akhirnya menyerah dan keluar dari Mirota dengan tangan hampa. Si Martha dan Emil sih yang masih kekeuh juga beli baju buat oleh oleh hehehe…

Keluar dari Mirota kami lanjut isi perut di House of Raminten. Yang punya resto dengan konsep unik ini pemiliknya Mirota juga sih. Pemiliknya laki laki, tapi menurut cerita yang saya dengar, karena si empunya Mirota ini suka dengan kegiatan kesenian semacam drama panggung dengan penampil mostly kaum trans gender, jadi dia terinspirasi untuk membuat ikon diri dengan tampilan wanita jawa yang bernama Raminten.

Resto yang satu ini letaknya di Jl FM Noto 7 KotaBaru, dekat dengan hotel Santika. Rupanya termasuk salah satu yang cukup hip juga di Jogja ini, karena begitu kami datang, masih harus menunggu dulu untuk dapat tempat duduk.

Konsep Jawanya cukup terasa, dengan tempat duduk lesehan, dari rotan dan bangunan bertingkat yang berbahan kayu. Bau dupa tercium begitu kami masuk. Para pramusaji disini menggunakan kostum jawa yang unik. Bahkan untuk pramusaji wanita, ada yang menggunakan kemben, busana adat jawa yang berupa kain dililitkan hingga sebatas dada, dengan bahu terbuka.

Kami duduk di lantai dua dan langsung pesan makanan saking laparnya😛

Pilihan nama menunya juga lucu lucu, seperti cunduk Raminten yang ternyata adalah steak, dan beberapa nama unik lainnya ( lupa nggak fotoin menunya😛 ). Saya pesan sego kucing double dengan harga yang fantastis, cukup 2 ribu rupiah saja! Itu sudah dapat nasi 2 kepal, berikut lauk sambel goreng tempe dan teri plus sambel. Nambah juga  sate jamur dan sate kerang dan tempe mendoan buat rame rame.  Untuk minumnya saya pesan gajah ndekem (pengen ngakak waktu baca menu ini) yang ternyata adalah teh manis anget dalam gelas lebar dengan 1 buah apel yang dicemplungin ke dalamnya hehehe😀

Untuk rasa sebenernya sih biasa aja, cuma memang konsep resto dan suasananya unik ya, jadinya banyak anak anak muda yang makan sekaligus nongkrong rame rame di situ. Terlebih dari segi harga juga bisa dibilang murah (bandinginnya sama harga makanan di Jakarta ya). Makan sampe kuenyang banget rame rame gitu habisnya nggak sampai 100 ribu rupiah hehehe…

Saking kenyangnya, begitu selesai makan, kami para wanita manis ini, duduk diem lemes nggak bisa gerak lagi sambil liat liatan. Sampai keluar istilah ‘kenyang bego’ dari mulut si Emil. Kenyang banget sampe linglung, nggak bisa mikir hihihihi. Bermenit menit kemudian kami baru sadar dan bisa bergeser dari kursi, lanjut balik ke hotel dan langsung bobo *mau nggak gendut gimana bu, kalau kelakuan kaya gini😛 *

Dan besok paginya bangun dengan lebih semangat lagi karena….. mau jalan jalan dan belanja hehehe…

Tujuan pertama ke Pasar Beringharjo yang jelas jelas bikin 4 orang cewek ini kalap karena pilhan batiknya buanyaaakkk dan lucu lucu. Niatnya cuma sejam muterin pasar, ternyata ada yang sampe harus digeret geret supaya mau keluar dari dalam pasar ini hihihi… Total belanjaan saya aja : 4 daster, 2 dress, 1 atasan,  2 kemeja cowok, 2 baju anak anak  dan 2 kaos. *gak semua saya pakai ya, ada titipan pesenan juga makkk* Belum termasuk belanjaan para sekretaris asik yang 3 orang itu, sampe sampe harus beli dua tas besar untuk ngangkut belanjaan mereka😀

Rencana awal sih mau mampir ke Tamansari, tapi karena sudah kesiangan akhirnya lanjut ke Coklat Monggo aja deh. Sebenernya saya sudah pernah ke Tamansari, cuma pengen aja ke sana lagi. Next time deh kalau ke Jogja lagi kali ya😀

Cokelat Monggo ini showroom dan lokasi pembuatannya ada di satu rumah yang terletak di daerah Kota Gede. Alamat lengkapnya di Jalan Dalem KG III/ 978 Kel Purbayan. Untuk menuju ke sana kami melewati jalan yang di kanan kirinya banyak terdapat sentra kerajinan perak. Lokasi showroom ini sendiri agak masuk di dalam gang, dan melewati pasar dengan jalan yang relatif tidak terlalu lebar. Tapi karena sudah terkenal, jadi ya nggak terlalu susah untuk menemukan tokonya🙂

Cokelat Monggo ini dibuat oleh seorang pembuat cokelat yang berasal dari Belgia, sejak tahun 2001. Awalnya ia membuat cokelat karena merasa cokelat buatan Indonesia kurang sesuai dengan seleranya. Setelah beberapa orang teman Indonesianya merasakan ternyata enak dan ia disarankan untuk membuat lagi, barulah mulai diproduksi lebih banyak hingga saat ini.

Saya suka banget sama cokelat Monggo ini sejak merasakan pertama kali tahun 2008, pas dapat hadiah jalan jalan gratis dari Femina dan Citra ke Jogja , bersama 29 orang pemenang lomba menulis artikel pendek. Ternyata sesudah balik ke Jakarta, coklat Monggo ini dijual juga di Circle K dan Gelael, meskipun kadang stoknya ada, kadang nggak. Bahkan dulu waktu hamil Suri kadang suka minta ayah pas pulang kantor mampir dulu ke Circle K buat beliin cokelat yang satu ini hehehehe. Saya paling suka sama yang krim praline dan dark 58%.

Dan karena bertepatan dengan Haloween, maka showroomnya Monggo ini selama 2 minggu didekorasi dengan nuansa Haloween. Lucuk. Ada boneka nenek sihir yang nyangkut di dahan pohon di depan pintu masuk toko. Bagian dalam toko juga dekorasinya sengaja dibikin srem, ada kuntilanak, peti jenazah dan mummi. Bahkan ada juga cokelat edisi spesial Haloween dengan kemasan khusus dan rasa baru.

Cokelat yang saya beli di antaranya : Dark 58%, Praline, Raisin and Cashew Nut, Extra Scary / spesial edition, dan paket pariwisata yang berisi 3 cokelat 100 gr. Para Seksi (sekretaris asik) juga akhirnya keracunan ikut belanja coklat juga hihihihi😀

Dari showroom cokelat Monggo kami lanjut ke HS Silver yang lokasinya berdekatan dengan Resto Omah Dhuwur. Disana kami sempat melihat proses pembuatan aksesoris berbahan silver.

 

Lanjut terus ke AS Java, yang menjual produk produk berbahan kulit seperti tas, dompet dan aksesoris. Laper mata lihat dompet kulitnya *dan kebeneran dompet saya juga udah waktunya pensiun* jadi bungkus satu deh dompet kulit pitonnya hehehe…

Kelar dari KotaGede kami lanjut ke daerah Pathuk untuk beli bakpia, yangko dan camilan lain untuk oleh oleh di toko Bakpia 75. Bakpianya baru aja masak jadi masih anget gitu waktu kami bawa di dalam kotaknya.

 

Karena sudah lapar akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di Soto Pak Marto, yang menjual soto daging enak dengan harga 8 ribu rupiah aja permangkoknya. Ditambah dengan sate telur puyuh dan potongan babat goreng dan krupuk, makin maknyuss dehh hehehehe😀 *tutup mata, nggak berani lihat timbangan😛 *

 

Mampir ke Gudeg Yu Djum lagi, tapi kali ini yang lokasinya di dekat bandara Adisucipto untuk beli satu paket gudeg pesenan si ayah. Dan ternyata mbak Santi dapat sms dari Garuda kalau pesawat bakalan didelay sekitar 1 jam lebih. Baru kali ini loh, saya denger berita delay dengan ekspresi bahagia😛

Jadi bisa lanjut jalan jalan lagi dung hehehehe

Akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke Candi Sambisari yang terletak di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Kalau ke Borobudur sama Prambanan kan sudah pernah, jadi kali ini kami mampir ke candi yang belum pernah kami kunjungi.

  

Candi Sambisari ini adalah candi Hindu, yang dibangun pada abad 9 Masehi. Yang kemudian tertimbun akibat letusan gunung Merapi dan baru ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1966 oleh seorang petani yang mencangkul tanah. Kelompok Candi Sambisari ini terdiri atas satu candi utama dan 3 buah candi perwara di depannya. Candi utamanya ditemukan dalam kondisi utuh namun candi perwaranya sudah tidak lengkap bagian bagiannya.

Selepas dari candi Sambisari, Emil dan Martha lanjut ke bandara karena mereka balik ke Jakarta dengan pesawat Lion yang tepat waktu, sementara saya dan Mbak Santi mampir dulu ke Ambarukmo Plaza untuk menghabiskan waktu, daripada nunggu di bandara. Dan  sialnya mall ini sedang menggelar sale. Jadilah dompet ini terbuka lagi, dan 1 moisturizer Body Shop pindah ke dalam tas🙂 * eh tapi emang butuh yaaa… karena udah mo abis hehehe*

Dan mbak Santi lebih kalap lagi, ngebungkus  sandal dan tas baru dari Centro. Salah bener deh ini Garuda pakai acara delay😛 Untung delaynya cuma sebentar, jadi dompet kami terselamatkan dari kerusakan yang lebih parah.

Akhirnya pulang juga ke Jakarta, bawa buntelan gede oleh oleh dan pengalaman yang menyenangkan. Can’t hardly wait for another business trip nyehehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s