jalan jalan · nyam nyam · office event

Lovely Belitung

Akhirnya selesai juga ngerjain cerita Belitung ini…  

Kalau Julan Juli  yang lalu, kantor menugaskan saya ke Bangka, maka di minggu kedua bulan Oktober kemaren,  saya ditugaskan ke pulau tetangganya, Belitung. Jadi lengkap sudah 2 pulau besar di propinsi ini, saya sambangin di tahun ini.

Sebenernya sudah pernah beberapa kali diajakin teman teman dari komunitas jalan jalan untuk ngetrip ke Belitung, tapi karena waktu dan biaya belum ada, jadinya belum ada kesempatan pergi. Alhamdulillah yaa….sesuatu banget… ternyata ada penugasan kantor kemari😀

Berangkat dari Jakarta dengan seorang rekan kerja, dengan pesawat Sriwijaya (karena belum ada Garuda ke Belitung), yang seharusnya dijadwalkan terbang jam 10 pagi. Tapi ternyata delay selama 1 jam 50 menit. Nyebelin banget deh. Mana ruang tunggu di dalam gate penuh, jadi nggak dapat tempat duduk dan akhirnya terpaksa ngungsi duduk di luar gate yang didominasi bapak bapak tukang hisap gak tau aturan, yang merasa berhak untuk meracuni paru paru orang lain dengan asap rokoknya😦

Meskipun sudah ditebus dengan 1 kotak nasi ayam plus 1 biji aqua gelas, tetep sebel lah saya. Abis nggak kira kira deh maskapai ini delaynya. Dan begitu duduk di dalam pesawat juga nggak ada penjelasan yang memuaskan tentang alasan kenapa delaynya sampai nyaris 2 jam😦 Sayangnya belum ada penerbangan dengan Garuda ke Belitung, jadi ya sudah lah, nasib, harus terima dengan servis kurang memuaskan dari maskapai yang satu ini😦

Oke, lupakan sejenak tentang delay yang menyebalkan itu.

Lanjut ke cerita serunya ya😀

Penerbangan Soekarno Hatta –  Tanjung Pandan  ditempuh dalam waktu 1 jam saja. Sengaja pilih seat sebelah jendela, supaya bisa lihat pemandangan dari atas pesawat sebelum landing. Dari cerita yang saya dapat dari beberapa orang teman yang sudah pernah kemari sebelumnya, Di beberapa bagian pulau ini kalau dilihat dari atas akan tampak pemandangan berupa dataran atau bukit dengan cekungan cekungan berbagai ukuran yang terisi air. Cekungan ini memang tampak dari atas  beberapa saat sebelum landing.

Ceruk ceruk berisi air itu yang tampak memiliki berbagai gradasi warna (biru, kehijauan atau coklat) bila dilihat dari jendela pesawat, sebenarnya adalah lubang lubang yang ditinggalkan dari bekas penggalian timah, yang sebagian besar areanya adalah milik PN Timah .

Begitu mendarat, kami dijemput oleh rekan kerja lokal Bangka Belitung dengan menggunakan mobil sewa lepas kunci dengan tarif sewa 300 ribu perhari. Segera kami menuju ke hotel tempat kami akan menginap sekaligus menggelar event.

Dalam perjalanan menuju ke hotel, di tengah jalan kami melihat monumen batu satam. Berupa replika batu berwarna hitam yang konon kabarnya adalah meteor yang jatuh ke bumi dan pecahannya hanya dijumpai di lokasi lokasi tertentu di pulau Belitung ini, dan tidak sembarang orang bisa menemukan batu ini.

Menurut cerita yang beredar, batu ini warnanya hitam pekat, menyerupai warna magnet. Batu ini keras sekali sehingga tidak bisa dipotong dengan alat pemotong apapun buatan manusia. Bila 2 buah batu diletakkan dalam posisi berdekatan ia akan saling menarik seperti magnet, namun bila saling disentuhkan tidak akan melekat.

Setelah berfoto foto sejenak, kami melanjutkan perjalan kembali menuju hotel.

Hotel yang kami tinggali selama 2 hari ini, namanya Grand Hatika. Lama perjalanan dengan menggunakan mobil dari bandara ke hotel sekitar 20 menit. Hotel yang baru dibuka kurang dari sebulan ini terletak persis di depan obyek wisata Pantai Tanjung Pendam.

Setelah check in dan meletakkan tas, perut rasanya keroncongan, jadi langsung menuju areal pantai untuk makan siang. Di Tanjung Pendam ini pantainya tidak landai dengan pasir yang langsung terpapar air laut tapi ada semacam tanggul untuk mencegah abrasi yang dibangun di sepanjang pantai. Jadi menurut saya agak kurang keren ya pantai yang satu ini hehehe…

Meskipun demikian, banyak warung makan yang dibangun di sekitar pantai ini. Ada juga areal yang diperuntukkan untuk kegiatan pesta rakyat.

Karena perut rasanya masih agak kenyang abis makan nasi kotakan Sriwijaya tadi, jadinya saya pilih makan bakso ikan dan ngemil otak otak aja. Eh meskipun tempat makannya warung biasa aja, tapi bakso ikan dan otak otaknya enak loh. Berasa banget ikannya. Apalagi otak otak di Bangka Belitung ini kan beda dengan otak otak yang ada di Jawa. Kalau otak otak di Jawa kan biasanya makannya dicocol saus kacang, tapi kalau di Bangka Belitung ini cocolannya semacam kuah cuka warna merah encer dengan bumbu sambel terasi dan diberi kucuran jeruk. Jadi asem asem seger gitu deh😀

Sorenya, setelah speaker dari Bangka datang, kami diajak ke Pantai Tanjung Kelayang oleh rekan rekan lokal Bangka Belitung. Perjalanan dari hotel ke Tanjung Kelayang memakan waktu sekitar 45 menit. Di sepanjang perjalanan, di kanan dan kiri tampak perumahan penduduk yang hampir sebagian besar memiliki pohon durian di pekarangan rumahnya. Wah asiikk bener ya, kalau sudah musim panen, bisa puas puasin pesta duren dari kebun sendiri. Sayangnya, yang tampak saat kami melintas, pohon pohon itu baru berbunga, ada yang berbuah pun juga ukurannya masih kecil kecil. Kalau menurut rekan kerja lokal Babel, musim durian biasanya jatuh di bulan Desember. Pernah suatu kali waktu musim panen durian, dia bisa beli 1 karung durian cuma dengan harga 150 ribu rupiah hahahaha😀 Mabok dureeennn deehh😛

Tiba di Pantai Tanjung Kelayang sudah magrib, sayangnya nggak bisa melihat dengan jelas pulau pulau kecil nan cantik yang berada di sekitar pantai ini.  Ada pulau Kepala Burung yang bentuk bebatuannya menyerupai bentuk kepala burung dengan paruhnya. Ada pulau Lengkuas yang menurut salah seorang teman saya memiliki spot snorkling atau diving yang keren di perairannya.

 

Kalau menurut informasi dari teman teman yang pernah liburan kemari, untuk island hoping ke beberapa pulau itu bisa menyewa kapal kayu dengan kapasitas 10 orang berbiaya 400 hinggga 500 ribu rupiah. Sayangnya sudah menjelang malam kami tiba di sana. Jadi nggak bisa sewa kapal untuk island hoping deh.

Namun kami cukup terhibur dengan adanya beberapa kapal layar yang berlabuh di dekat pantai Tanjung Kelayang ini. Kedatangan kami ke Pulau Belitung ini ternyata bertepatan dengan diselenggarakannya acara Sail Wakatobi Belitung, dimana kapal kapal layar dari beberapa negara di dunia berlayar dari negaranya masing masing dan di Indonesia mengikuti rangkaian acara yang dimulai di kepulauan Wakatobi, dan diakhiri di Pulau Belitung ini. Pesertanya lebih dari 35 kapal layar dari berbagai penjuru dunia.

Sehingga saat kami tiba di Tanjung Kelayang ini, tampak beberapa orang wisatawan mancanegara yang notabene peserta Sail Wakatobi Belitung ini berkumpul di beberapa warung tenda yang ada di tepian pantai. Bahkan kami melihat juga diantara bule bule itu ada sepasang suami istri yang membawa serta anak anak balitanya berlayar dari negaranya sampai ke Indonesia! Wowww…. hebat bener…. nggak kebayang deh anak anak sekecil itu bisa kuat berhari hari terombang ambing di tengah laut. Salut deh😀

Sesudah magrib akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan pantai Tanjung Kelayang dan mencari makan malam. Kali ini tujuan kami adalah Resto Sari Laut yang terletak di jalan Wahab Azis no 29, Tanjung Pandan. Sebelumnya sempat salah jalan waktu menuju ke resto ini, maklum lokasinya di pemukiman warga dan kalau dilihat dari luar nggak terlihat seperti rumah makan, kelihata kaya rumah biasa saja. Tapi begitu tiba disana dan masuk ke dalam baru terlihat ruangan luas dengan beberapa meja dan kursi sederhana untuk para pengunjung resto.

Meskipun secara interior biasa saja, tapi rasa seafoodnya.. waduuuhh…. makyuss abis.. Top markotob hehehe…😀 Malam itu kami pesan ikan bakar, cumi goreng tepung, udang asam manis, otak otak ikan dan kepiting isi goreng. Otak otaknya mantap, rasa ikannya nggak bohong deh pokoknya. Kepiting isinya apalagi, sampai saya nambah lagi. Doyan apa maruk yaaakkk hihihihi…😛

Jadi kepiting isi ini adalah cangkang kepiting berukuran kecil yang diisi dengan daging kepiting, dilumuri telur lalu digoreng. Dan kepiting ini setelah digoreng bisa langsung dimakan dengan cangkangnya, rasa cangkangnya renyah dipadu dengan isi daging kepiting yang gurih… Yummiii deh pokoknya *ngelap iler, jadi mupeng lagi nih😛 * Harganya juga cukup masuk akal, cuma 5 ribu rupiah perbiji. Akhirnya  besok lusanya sebelum ke bandara kembali ke resto ini lagi untuk bungkus kepiting isi dan otak otaknya buat oleh oleh pulang ke Jakarta 😀

Puas makan seafood dan akhirnya balik ke hotel, bobo sampai pagi, menghimpun energi untuk pekerjaan di esok hari. Sebenarnya persis di depan hotel tempat kami menginap, Grand Hatika, ada warung tenda di sekitar pantai Tanjung Pendam yang menyajikan live musik. Namun karena udah keburu males, dan lagipula cuaca agak gerimis, ya sudahlah istirahat aja.

Paginya setelah cek persiapan ruangan yang akan digunakan untuk event, saya dan rekan rekan kerja memutuskan untuk pergi sebentar mengunjungi musium kota Belitung. Karena kegiatan baru dimulai jam 10, sehingga daripada bengong nunggu di hotel sampai waktu pelaksanaan kegiatan, nggak ada salahnya kan jalan jalan sebentar. Toh lokasi museumnya juga dekat dari hotel, naik mobil nggak sampai 10 menit.

Museum ini lokasinya persis di depan RS Umum Belitung. Begitu masuk halaman museum kami disambut oleh 2 patung singa centil berwarna kuning. Ada juga replika  kepala kereta pengangkut timah * foto foto narsis dulu deh biar nggak dikira hoax hihihihi *

Untuk masuknya tidak dipungut biaya, mungkin juga untuk menarik wisatawan yang berkunjung bertepatan dengan kegiatan Sail Wakatobi Belitung ini. Begitu masuk tampak replika kapal pengangkut timah, diorama tambang timah dan ada cerita cerita singkat di dinding tentang sejarah eksplorasi Timah di Bangka Belitung.

Tampak juga dipajang di etalase kaca yang bersekat sekat kayu, beberapa logam dan bebatuan dari dalam bumi Belitung, seperti granit, kuarsa, timah, bauksit dan banyak macam macamnya. Buat yang suka ilmu geologi, pasti demen deh kalau lihat yang model begini.

Selain itu banyak juga dipajang keramik keramik Cina yang didapat dari pengangkatan harga karun dari kapal kapal yang tenggelam di perairan sekitar bangka Belitung. Dahulu rupanya jalur perairan Babel ini kerap dilewati oleh kapal kapal dagang yang membawa guci dan barang dagangan lainnya. Dan beberapa di antaranya yang mungkin terkena ombak besar, karam dengan seluruh muatannya di perairan Babel. Beberapa di antara guci guci yang berasal dari kapal karam itu ternyata masih banyak yang bagus secara penampakan.

Selain peninggalan bersejarah, ada kebun binatang mini di belakang bangunan museum ini. Di kolam buatan tampak ada ikan dan beberapa jenis kura kura. Di kandang yang dikelilingi jeruji kawat ada koleksi ular dan buaya!

Setelah puas melihat lihat bagian museum, kami menuju Pantai Tanjung Pendam, persis di depan Hotel Grand Hatika untuk melihat festival layang layang yang menandai prosesi penyambutan para peserta Sail Wakatobi Belitung. Tidak lama kami berada disini, karena angin rupanya cukup kencang.

Kembali lagi ke hotel dan siap siap untuk kerja lagi. Nggak perlu ya diceritain detail tentang kegiatan ilmiah yang disponsori oleh kantor kami di Hotel ini. Ntar melanggar kode etik hehehehe…. Yang pasti kegiatannya berjalan dengan lancar sampai sore.

Sorenya setelah selesai kegiatan, kami langsung buru buru lanjut jalan lagi ke Pantai Tanjung Tinggi untuk mengejar sunset. Jarak tempuh Hotel dengan Pantai Tanjung Tinggi ini sekitar 40an menit.

Begitu menjejakkan kaki di sini, nggak berhenti saya berdecak kagum. Pantai dengan pasir putih yang landai, ombak yang tenang dan tentu saja batu batu granit berukuran raksasa yang fenomenal itu.  Menurut saya pantai ini bisa dibilang sebagai salah satu icon pariwisata Belitung. Keindahannya terekam juga di dalam film laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.

Waktu foto foto di sela sela batu raksasa jadi ingat sama salah satu adegan film dimana para Laskar Pelangi  loncat loncat  dan duduk di salah satu batu raksasa itu. Keren banget ya memang Indonesia ini, alamnya cantik beneerrrr😀

Kami berada di pantai ini hingga matahari tenggelam. Nggak rela rasanya waktu mau pergi, masih pengen lihat pemandangan pantai cantik ini. Tapi karena sudah mulai gelap dan perut juga mulai keroncongan, ya sudah deh, akhirnya kami lanjut lagi cari makan malam.

Niat semula pingin makan mie Atep, mie khas Belitung yang terletak di jalan Sriwijaya. Apadaya, ternyata waktu sampai disana, sudah kehabisan huhuhuhu.. padahal belum juga jam 7 malam. Rupanya karena malam minggu, stok mienya habis lebih cepat. Akhirnya tanya tanya ke warung kopi di dekat Mie Atep itu, dan ditunjukkan oleh satu orang bapak kalau di dekat situ ada warung mie belitung juga tapi rasanya masih di bawah mie Atep.

Ya sudahlah, daripada kembali dengan perut kosong akhirnya kami jalan kaki sekitar 50 meter ke arah warung kecil itu, dan makan mie Belitung KW 2 ini hihihihi😀 Tapi lumayan kok untuk menutupi rasa penasaran terhadap rasa mie Belitung hehehe…

Sesudah makan mie, kembali ke hotel dan duduk duduk di lobi sambil ngobrol bersama rekan rekan kerja lokal Babel dan speaker dari Bangka. Faktor U memang nggak bisa bohong ya, baru ngobrol sebentar, sudah nguap nguap ngantuk hihihihi…. Emang dasarnya juga saya nggak hobi dugem,dan lagi teman ngobrolnya bapak bapak ini,  jadi males aja keluar jalan lagi😛 Akhirnya saya masuk kamar dan bobo sampai pagi hehehe….

Paginya sebelum ke bandara, mampir lagi ke restoran Sari Laut untuk ambil oleh oleh : kepiting isi dan otak otak. Sebenernya masih pengen jalan lagi untuk lihat sekolahnya Laskar Pelangi yang terkenal itu, tapi karena ke daerah Manggar sendiri butuh waktu 1 jam, kayaknya nggak sempet balik lagi ke bandaranya untuk ngejar pesawat jam 10. Jadi yo weslah, next time ya maybe bisa kemari lagi. Pengennya ngajak Suri dan ayah untuk jalan jalan kemari hehehehe…

Saya pikir perjalanan pulang akan lancar lancar saja, ternyata….. Sriwijayanya delay lagi, hampir 2 jam juga. Keterlaluan sangat ya, mana bandaranya ACnya cuma basa basi nggak berasa pula. Dapat kotakan kompensasi juga isinya cuma kue kecil 2 biji plus aqua. Huhuhuhu….

So far pengalaman tugas kantor ke Belitung ini sangat menyenangkan, terlepas dari delay Sriwijaya yang menyebalkan itu. Pengennya suatu saat bisa ajak Suri dan ayah untuk jalan jalan kemari hehehehe… Amiinnnn….😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s