jalan jalan · office event

Assignment to Mataram

Another business trip.

Kali ini ke Mataram, dua hari dua malam. Berangkat dari Jakarta tanggal 30 September, hari Jumat dengan Garuda yang dijadwalkan terbang jam ½ 11 pagi. Untung flightnya gak terlalu pagi, jadi bangun pagi, masih sempet main sama Suri dan nyuapin makanan kesukaannya si bocah. Macaroni saus bolognaise🙂

Begitu Suri kelar sarapan, taksinya datang dan dadah gudbaii ke si bocah. Pinternya udah bisa cium tangan sekarang, dan untungnya nggak pakai acara nangis.

Di airport, udah janjian ketemu sama mbak Santi, temen sekantor yang bakalan kerja barengan ke Mataram. Si Boeing 737-800 yang seharusnya tepat waktu, ternyata lambreta aja tuh. Semua penumpang (termasuk si Cathy Sharon – emang penting ya dibahas😛 ) sudah masuk pesawat jam 11.35, tapi ternyata ½ jam lebih nunggu di runway nggak berangkat juga. Tanpa penjelasan pulak😦

Penerbangan Jakarta Mataram ditempuh dalam waktu 2 jam. Beda waktu antara Jakarta dan Lombok adalah 1 jam. Beberapa menit sebelum landing, begitu pesawat mulai menurunkan ketinggian, kami berdua bisa kompakan kesakitan di bagian telinga karena perubahan tekanan udara, padahal biasanya naik pesawat nggak pernah begini begini amat. Proses landingnya juga agak agak nggak smooth. Untungnya selamat sampai tujuan.

Begitu turun dari pesawat, banyak diantara penumpang pesawat yang foto foto di depan tulisan bandara Selaparang. Saya nggak ikut2an sih, abis udah pernah foto2 di depan tulisan itu 2 tahun yang lalu waktu pergi liburan kemari bareng ayah + anak anak Jejak Kaki *sombong*, tapi ternyata akhirnya rada nyesel juga nggak sempat foto2 lagi. Karena ternyata tanggal 30 September itu adalah hari terkahir bandara Selaparang beroperasi, sebelum seluruh aktivitasnya dihentikan (rencananya akan digunakan untuk pendidikan penerbangan) dan dialihkan operasionalnya ke bandara baru, BIL (Bandara Internasional Lombok).

Keluar dari bandara sudah dijemput sama driver Trac, diantar ke hotel Lombok Plaza, tempat kami menginap dan menggelar event. Hotel ini lokasinya di daerah Cakranegara, sekitar 15 menit dari bandara. Posisi hotel ini persis di tengah kota, ke pusat keramaian semacem mall dan tempat makan juga dekat *kata driver Trac sih, kalau di Mataram kemana mana juga deket, gak usyah dibandingin ama Jakarta ya huehehe😀 *

Hotelnya nggak terlalu besar, cuma 5 lantai. Fasilitas kolam renang juga belum selesai dibangun, karena hotel ini baru mulai beroperasi 3 bulan. Ditinjau dari posisi, hotel ini cukup strategis untuk kegiatan bisnis, dilengkapi pula dengan fasilitas hall untuk meeting, maupun event lainnya seperti conference atau wedding. Untuk rate superior roomnya di harga 726k rupiah, tapi kalau harga corporate ya nggak sampai segitu😀

Hotel ini lokasinya dekat dengan obyek wisata Taman Mayura yang dikelilingi 3 bangunan tempat ibadah, Gereja, Masjid dan Pura Meru (tempat pemujaan agama Hindu yang paling dituakan di mataram). Tenang ya kalau bisa melihat lokasi peribasatan berdekatan tanpa ada konflik dari umat masing masing agama.

Sesudah check in dan taruh barang di kamar, saya dan mbak Santi, diajak oleh dua orang rekan kerja lokal Lombok untuk makan siang di rumah makan Ayam Taliwang H. Moerad di daerah jalan Pelikan. Jangan bilang sudah pergi ke Lombok, kalau belum ngarasain enaknya ayam taliwang hehehe😀

Di tempat ini, saya pilih ayam bakar madu, karena sebelumnya sudah pernah nyobain ayam taliwang bakar pedes yang sukses bikin mbrebes mili saking pedesnya huahaha. Ternyata ayam bakar madu ini enak juga, rasanya pedes manis. Harga seekornya 37.5k rupiah. Dan khasnya ayam taliwang ini ukurannya kecil, karena dipotongnya saat ayam ini masih abg, umur 3 bulanan gitu deh *menurut info dari teman saya itu*. Jadi satu ekor itu ya habis dimakan sendiri hehehe😀

Untuk pelengkapnya saya pesan nasi dan plecing kangkung seharga 7.5k rupiah. Enak bener deh plecing ini, isinya kangkung, kacang panjang dan tauge rebus, ditambah kacang goreng, ditaburi krawu (parutan kelapa berbumbu) warna kuning dan sambel terasi. Maknyuss dueehhh😀 Minumnya es kelapa muda, yang pas banget, seger dan empuk daging buahnya. Mantap deh pokoknya😀

Selesai makan siang, kembali ke hotel untuk beres beres perlengkapan yang diperlukan untuk event besok hari, sampai sekitar jam ½ 7 malam. Lalu mandi dan jam 7 siap siap untuk dinner dengan speaker dari Bali. Menu makan malam kali ini adalah seafood, di rumah makan 99, menurut info dari rekan kerja lokal Mataram, ini adalah tempat makan seafood paling enak di tengah kota Mataram.

Kami memesan ikan kakap bakar, udang goreng asam manis, sup ikan, sup kepiting dan cumi goreng tepung. Untuk rasa sih, biasa aja, menurut lidah saya. Kepiting dan udangnya nggak begitu segar. Bumbunya juga nggak nggigit *emang anjing ape..kok sampe gigit segala😛 *

Kenapa saya bisa bilang nggak segar?
Saya suka makan seafood dan pernah PTT di Wakatobi selama 6 bulan. Selama PTT disana, tiap hari menu makan saya adalah seafood, mulai dari kerapu dan segala macem jenis ikan lainnya, cumi, gurita, ubur ubur, kerang, lobster, kepiting, bulu babi bahkan hingga daging ikan hiu *uuppss…clingak clinguk… kuatir disemprit orang WWF😛 * Mahluk yang bener bener baru diangkat dari laut, mampir lewat ke pedagang di pelabuhan sebentar (kadang masih hidup di pelabuhan), pindah ke tangan saya dan langsung menuju dapur!

Karena itu saya tahu, kalo seafood segar pasti dagingnya rasanya sedikit manis dan lembut. Nggak perlu pakai bumbu, dibakar pakai arang kelapa aja rasanya udah nendang banget.
Well, oke lah, mungkin karena memang bukan makanan otentik, so saya nggak protes lah.

Kelar makan, masih ada kerjaan lagi dan balik ke hotel sesudah jam 11 malam.

Hari Sabtu pagi hingga siang, event kantor digelar di hall hotel ini, di lantai dua. Alhamdulillah berjalan lancar. Sebagai PIC, puas banget kalau pekerjaan bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Untuk menutup acara, kami makan siang di restoran hotel. Siang itu saya pilih dimsum, yang lagi lagi menurut lidah saya, biasa aja sih. Yang agak istimewa di resto hotel ini adalah Shrimp Avocado Salad. Kebetulan alpukatnya matangnya pas, ditambah dengan udang rebus dan disiram kuah jeruk asem manis dengan camputran cabai dan sedikit jahe. Seger deh🙂


Sesudah beres beres di lokasi kejadian perkara hall lantai 2, balik ke kamar dan ganti baju, lirik jam ternyata masih jam 1/2 4  sore, akhirnya cabut lah kami (saya, mbak Santi+ rekan2 lokal Mataram) jalan jalan lingkot hehehe… ya iyalah, udah jauh jauh sampe ke Lombok masak cuma ngerem di kamar aja😀

Tujuan pertama adalah toko oleh oleh Imamulia di jalan Diponegoro. Di situ saya beli beberapa bungkus dodol rumput laut, camilan khas Lombok. Lucu deh, rasanya kenyel macem yupi gitu. Trus beli juga kacang oven, kopi lombok, dan keripik jamur😀 Sempet mupeng juga lihat telur asin Lombok yang terkenal enak itu, cuma karena masih mentah dan dikemas dalam wadah anyaman bambu yang diisi sekam, kayaknya rada ribet juga ya ntar bawa pulangnya. Ya wes lah, batal beli telur asin, next time aja kali ya, kalau ada kesempatan ke Mataram lagi hehehe….

Perjalanan dilanjutkan ke Senggigi, yang ditempuh dengan mobil selama ½ jam saja. Di jalanan menuju Senggigi, bertebaran hotel hotel mulai dari kelas melati sampai yang berbintang bintang. Jadi inget tahun 2009, pernah nginep di salah satu hotel di kawasan Senggigi ini bareng ayah + rombongan teman teman Jejak Kaki. Tapi kami nggak turun di Senggigi, masih lanjut sedikit lagi ke arah pantai Malimbu, yang lebih tenang dan nggak ada hotelnya.

 

Di sana leyeh leyeh sebentar di bale bale bambu, menunggu sunset sambil makan kelapa muda. Perbijinya cuma 5 ribu perak, dagingnya pas, nggak terlalu tua, tapi juga nggak terlalu muda. Enak deh pokoknya.

 

Sesudah matahari turun, kami kembali ke kota. Tapi sebelumnya sempat mampir ke art shop di Senggigi, tepatnya di areal Cafe The Office, untuk cari tukang tato, karena mbak Santi ngebet banget pengen tato temporer di tangan.

Kelar bikin tato, yang dilukis sekitar 15 menit itu, kami melanjutkan mencari makan di tengah kota. Menu makan malam kali ini adalah Nasi Puyung. Nasi Puyung ini terdiri dari dari putih dengan taburan potongan kentang kering, kacang kedelai dan lauk daging dimasak ala bumbu rujak yang super duper pedes. Ditambah dengan telur ayam yang direbus dan dibumbui semacem bacem, berwarna coklat. Enaknya sih enak, tapiiiii pedesnya itu ya maakkk… dan sukses bikin pengeluaran jadi lebih lancar besok paginya😛

Rencananya sih kelar makan, mau jalan balik hotel sebentar trus pergi lagi, ngupi ngupi atau cari live entertainment di sepanjang pantai. Tapi entah ya bo, mungkin karena faktor U yaaa…. begitu sampai di kamar, tulang emak emak ini rasanya minta rebahan aja. Jadi yo weslah, bubar jalan rencananya. Bobo lah kami semua sampai pagi hehehe….

Paginya, saya dan mbak Santi check out dari hotel jam ½ 7 karena harus naik Wings Air pagi ke Surabaya *nasib, kehabisan tiket pesawat direct ke Jakarta, semua maskapai full booked* baru dari Surabaya pindah Garuda ke Jakarta. Sengaja berangkat lebih awal karena airport baru, Bandara Internasional Lombok (BIL), yang baru 2 hari beroperasi lokasinya jauhh, sekitar 50 menit perjalanan dari Hotel Lombok Plaza.

Perjalanan menuju bandara baru yang terletak di Lombok tengah ini, ternyata melewati deretan persawahan dan kebun tembakau. Sejuknya melihat pemandangan hijau di kanan dan kiri jalan, hal yang nggak mungkin bisa dilihat kalau balik lagi ke ibukota😛

Kekecewaan muncul setelah kami tiba di BIL, karena ternyata sarana dan prasarananya belum memadai untuk bisa disebut internasional. Sistem boarding masih kacau, petunjuk counter untuk check in nggak jelas. Saat check in kami berdua sampai geleng geleng kepala, karena nggak diminta oleh petugas untuk menunjukkan KTP! Kalau yang check in nggak sesuai dengan nama penumpang yang tertera di tiket, gak bakalan ketahuan dong dong dong…ckk…ckk..ckk…..

Selesai check in kami langsung naik ke lantai 2 dengan lift karena elevator belum berfungsi. Kami pikir bayar taxnya di lantai 2 karena nggak ada petunjuknya di counter check in. Eeeh..udah capek capek sampe atas, disuruh turun lagi oleh petugas di lantai 2, karena ternyata harus bayar tax dulu di dekat counter check in.Grrrrrhh…kenapa sih gak ada petunjuk tertulisnya???Ternyata kami bukan satu satunya yang terkecoh, beberapa penumpang domestik maupun mancanegara juga harus turun lagi ke bawah untuk bayar tax.

Begitu sudah berhasil duduk di gate, masalah muncul lagi. Di ruang tunggu keberangkatan itu, AC belum berfungsi, jadi panas bin keringetan lah para penumpang yang menunggu di situ. Sampai ada satu bapak bapak bule yang complain, “ You got no AC here??? It’s hot!”
Yaelah mister, jangankan ente, kami aja yang pribumi udah biasa dengan iklim tropis, juga kegerahan di ruang tunggu itu.

Sambil kipas kipas kegerahan, saya memperhatikan ternyata sistem pengeras suara untuk informasi pemanggilan penumpang juga belum sepenuhnya berfungsi. Jadi ketika pesawat akan berangkat, petugas bandara memanggil penumpang dengan membawa toa dan berteriak keliling. Hadoohhh…hadoohh… plis dueh… masak iya, yang namanya internasional kaya begini servisnya *tepok jidat*

Untungnya pesawat kami tepat waktu. Wings Air yang membawa kami ke Juanda ternyata pesawat kecil (lupa tipenya) dengan kapasitas 88 penumpang. Jadi saat proses take off dan landing goncangannya lumayan berasa, bikin perut macem ditarik tarik getoh😛

Sampai di Juanda, ganti dengan Garuda yang berangkat jam 11 siang menuju Jakarta. Lancar dan selamat sampai tujuan. Bisa ketemu Suri lagiiii…horeeiiii😀

Sekian laporan perjalanan tugas ke Mataram, kita berjumpa lagi minggu depan di laporan perjalanan dinas ke Belitung huehehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s